Sementara itu, Ir. Arwan Tjahjadi menyoroti kontribusi nyata warga Tionghoa dalam pembangunan ekonomi daerah. Menurutnya, Makassar berkembang sebagai kota metropolitan karena kolaborasi seluruh elemen masyarakat. “Kebhinekaan bukan sekadar semboyan. Ia adalah energi produktif yang mendorong inovasi, memperkuat perdagangan, dan menciptakan lapangan kerja. Kolaborasi lintas etnis adalah fondasi kemajuan,” tegasnya.
Dari perspektif hukum dan sosial, Prof. Dr. H. Aminuddin Salle menjelaskan pentingnya kesetaraan dalam bingkai konstitusi. “Negara menjamin hak yang sama bagi seluruh warga. Dialog seperti ini penting untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa keberagaman adalah kekuatan hukum sekaligus kekuatan moral bangsa,” paparnya. Ia juga mengajak generasi muda untuk aktif merawat toleransi sebagai warisan berharga bangsa Indonesia.
Diskusi berlangsung hidup melalui sesi tanya jawab yang interaktif. Sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan kritis seputar tantangan integrasi sosial di era digital, peran generasi muda Tionghoa dalam kewirausahaan, hingga upaya memperkuat literasi sejarah kebangsaan. Antusiasme peserta membuat dialog berjalan dinamis dan penuh gagasan segar, mencerminkan semangat kolaboratif yang menjadi ruh kegiatan tersebut.

Melalui dialog budaya ini, Makassar kembali menunjukkan komitmennya sebagai kota yang terbuka dan progresif. Kebhinekaan tidak hanya dirayakan sebagai simbol, tetapi dipraktikkan melalui perjumpaan, percakapan, dan kolaborasi nyata. Forum ini menjadi pengingat bahwa persatuan dalam perbedaan adalah fondasi kokoh untuk membangun Indonesia yang adil, inklusif, dan berdaya saing di masa depan. (*Rz)

