PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Buku bukan sekadar tumpukan kertas bagi Nasyidah, S.Sos., M.AP. Ia adalah jejak hidup, saksi pengabdian, sekaligus cara seorang pustakawan “berbicara” melampaui usia. Senin, 9 Februari 2026, jejak itu resmi dititipkan ke ruang-ruang baca, saat buku “Memoar Pustakawan Sejati” diserahkan untuk menjadi koleksi perpustakaan.
Rusdin Tompo, sang editor, menyerahkan buku yang mendokumentasikan perjalanan panjang karier Nasyidah di dua perpustakaan berbeda—pada hari yang sama. Buku terbitan Arsy Media itu pertama diserahkan kepada Adriani binti Nasir, SIP, pustakawan Dispusarsip Sulsel, di Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Sultan Alauddin, Makassar.
Selanjutnya, buku keempat karya Nasyidah itu juga diserahkan kepada Sri Wachyuni Ismail, pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa, untuk memperkaya koleksi Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kabupaten Gowa di Sungguminasa.
Bagi Nasyidah, buku ini bukan sekadar karya tulis, tetapi penanda fase hidup.
"Perjalanan karier saya sudah sampai ke pengujung. Ibarat lembaran-lembaran buku, seorang penulis akan menamatkan kisah yang ditulisnya," tulis perempuan kelahiran Watampone, Bone, 27 Mei 1961 itu.
Ia ingin meninggalkan jejak—pembelajaran, inspirasi, dan motivasi—bagi pustakawan dan generasi yang akan memilih profesi ini. Sebab baginya, pustakawan bukan sekadar jabatan, tetapi panggilan hidup.
DNA Seorang Pustakawan
“DNA saya adalah pustakawan. Saya tidak pernah berada di OPD lain, selain Dispusarsip,” ungkapnya dalam buku.
Kalimat itu merangkum kesetiaan 37 tahun pengabdian di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Kariernya dirintis dari bawah—dari pegawai honorer, hingga mencapai puncak sebagai Pustakawan Ahli Utama (Pustama).
Pendidikannya pun sejalan dengan jalan hidupnya. Ia menyelesaikan D3 Ilmu Perpustakaan Unhas (1983), S1 Ilmu Perpustakaan Unhas (2001), dan S2 Magister Administrasi Publik Unismuh Makassar (2013). Berbagai diklat kepustakawanan dari Perpustakaan Nasional turut memperkaya kompetensinya, dari pelatihan fungsional, Training of Trainers, hingga promosi dan etika layanan perpustakaan.
Suaminya, Syamsuddin Bakry, SE, juga pensiunan pustakawan pada dinas yang sama—seolah hidup mereka memang dilingkupi dunia literasi.
Jalan Sunyi Pengabdian
Dalam memoarnya, Nasyidah menegaskan bahwa pustakawan profesional dituntut tak hanya terampil secara teknis, tetapi juga piawai berkomunikasi, mengelola informasi, memiliki sikap melayani, mau belajar, dan kreatif. Orientasi melayani itu bahkan membawanya menjangkau daerah terpencil.
Salah satu kisah paling membekas adalah saat ia mengajar mahasiswa Universitas Terbuka di daerah Sinjai. Dari Sinjai Selatan menuju Sinjai Barat, ia menempuh perjalanan berat dengan ojek, melewati hutan, bukit, dan jalan rintisan yang sunyi tanpa perkampungan.
Di atas motor itu, ketakutan sempat menyergap. Bagaimana jika sesuatu terjadi? Tak ada yang tahu ia berada di sana.
Namun ia tetap melaju. Dan setibanya di lokasi, air matanya jatuh—bukan hanya karena lelah, tetapi karena menyadari arti pengabdian yang sesungguhnya. Di sana, ia mengajar sebagai dosen luar biasa mata kuliah Ilmu Perpustakaan.
"Pustakawan dituntut mandiri dan mau berbagi pengetahuan serta pengalaman," tulisnya.
Ia juga meyakini, pustakawan sejati yang mengabdi dengan ketulusan hati tak akan tergantikan oleh mesin.
Karier, Penghargaan, dan Warisan Nilai
Jenjang kariernya lengkap: mulai Asisten Pustakawan, Ajun Pustakawan Muda dan Madya, Pustakawan Pratama, Muda, Madya, hingga akhirnya Pustakawan Ahli Utama berdasarkan SK Presiden Nomor 53/K Tahun 2020. Ia dilantik Gubernur Sulawesi Selatan sebagai Pustama pada 31 Maret 2021, dengan pangkat Pembina Utama Madya (IV/d).
Pengabdiannya juga diakui melalui Satyalancana Karya Satya 20 Tahun (2009) dan 30 Tahun (2019).
Namun lebih dari jabatan dan penghargaan, warisan terbesar Nasyidah ada pada nilai: ketulusan melayani, kesetiaan pada profesi, dan keyakinan bahwa pustakawan adalah penjaga peradaban.
Dalam “Memoar Pustakawan Sejati”, ia tak hanya menceritakan dinamika hidupnya, tetapi juga pengalaman berkesan saat menyampaikan orasi sebagai Pustakawan Ahli Utama di Perpustakaan Nasional RI—sebuah momen yang menegaskan bahwa perjalanan panjangnya bukan sekadar karier, melainkan pengabdian yang ditulis dengan hati. (Ardhy M Basir)

