“Memoar Pustakawan Sejati”, Jejak Pengabdian Nasyidah yang Tumbuh Bersama Buku dan Waktu

Ramzy
Ramzy 250 Pembaca
4 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Dalam memoarnya, Nasyidah menegaskan bahwa pustakawan profesional dituntut tak hanya terampil secara teknis, tetapi juga piawai berkomunikasi, mengelola informasi, memiliki sikap melayani, mau belajar, dan kreatif. Orientasi melayani itu bahkan membawanya menjangkau daerah terpencil.

Salah satu kisah paling membekas adalah saat ia mengajar mahasiswa Universitas Terbuka di daerah Sinjai. Dari Sinjai Selatan menuju Sinjai Barat, ia menempuh perjalanan berat dengan ojek, melewati hutan, bukit, dan jalan rintisan yang sunyi tanpa perkampungan.

Di atas motor itu, ketakutan sempat menyergap. Bagaimana jika sesuatu terjadi? Tak ada yang tahu ia berada di sana.

Namun ia tetap melaju. Dan setibanya di lokasi, air matanya jatuh—bukan hanya karena lelah, tetapi karena menyadari arti pengabdian yang sesungguhnya. Di sana, ia mengajar sebagai dosen luar biasa mata kuliah Ilmu Perpustakaan.

“Pustakawan dituntut mandiri dan mau berbagi pengetahuan serta pengalaman,” tulisnya.

Ia juga meyakini, pustakawan sejati yang mengabdi dengan ketulusan hati tak akan tergantikan oleh mesin.

Karier, Penghargaan, dan Warisan Nilai

Jenjang kariernya lengkap: mulai Asisten Pustakawan, Ajun Pustakawan Muda dan Madya, Pustakawan Pratama, Muda, Madya, hingga akhirnya Pustakawan Ahli Utama berdasarkan SK Presiden Nomor 53/K Tahun 2020. Ia dilantik Gubernur Sulawesi Selatan sebagai Pustama pada 31 Maret 2021, dengan pangkat Pembina Utama Madya (IV/d).

Pengabdiannya juga diakui melalui Satyalancana Karya Satya 20 Tahun (2009) dan 30 Tahun (2019).
Namun lebih dari jabatan dan penghargaan, warisan terbesar Nasyidah ada pada nilai: ketulusan melayani, kesetiaan pada profesi, dan keyakinan bahwa pustakawan adalah penjaga peradaban.

Dalam “Memoar Pustakawan Sejati”, ia tak hanya menceritakan dinamika hidupnya, tetapi juga pengalaman berkesan saat menyampaikan orasi sebagai Pustakawan Ahli Utama di Perpustakaan Nasional RI—sebuah momen yang menegaskan bahwa perjalanan panjangnya bukan sekadar karier, melainkan pengabdian yang ditulis dengan hati. (Ardhy M Basir)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Baca juga :  Melalui Zoom Meeting, Polres Pelabuhan Makassar Ikuti Binlat SIP dari Biro SDM Polda Sulsel
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!