PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Sore itu angin bertiup pelan di tepian Danau GTC Makassar. Permukaan air tampak tenang, memantulkan warna langit yang perlahan berubah keemasan. Di salah satu sudut tepi danau, tiga pria duduk santai menghadap air, masing-masing menggenggam kelapa muda yang masih segar dari batoknya.
Mereka adalah Ardhy M Basir, Arwan Awing, dan Rahman Rumaday — tiga sahabat yang sore itu memilih cara sederhana untuk menikmati waktu: duduk, bercerita, dan membiarkan hari berjalan tanpa tergesa.
Tak ada rapat, tak ada tenggat, tak ada hiruk pikuk kota yang biasanya menyesakkan. Yang ada hanya suara air yang sesekali beriak, tawa kecil yang pecah di sela percakapan, dan sensasi manis dingin air kelapa yang seakan menyiram lelah setelah hari yang panjang.
“Kadang yang kita butuh cuma ini,” ujar salah satu dari mereka sambil mengangkat buah kelapa muda, dagingnya masih utuh, mengapung di antara bongkahan es. Bukan tentang minumannya semata, tetapi tentang ruang untuk berhenti sejenak.
Di tepi danau itu, obrolan mengalir bebas. Dari cerita masa lalu, kenangan pertemanan, hingga hal-hal ringan yang justru terasa paling menenangkan. Sesekali mereka terdiam, menikmati pemandangan. Senja di GTC memang punya caranya sendiri untuk membuat orang lebih banyak merenung daripada berbicara.

