Kelapa muda yang mereka minum seolah menjadi simbol kesederhanaan: alami, jujur, dan menyegarkan. Di tengah dunia yang serba cepat, momen seperti ini terasa mewah — bukan karena harganya, tetapi karena waktu yang benar-benar dimiliki.
Orang-orang lalu lalang di sekitar danau, sebagian berolahraga, sebagian hanya berjalan santai. Namun bagi Ardhy, Arwan, dan Rahman, sore itu seperti ruang kecil yang hanya milik mereka bertiga. Tempat di mana persahabatan tak perlu formalitas, cukup kebersamaan.
Matahari perlahan turun, cahaya jingga memudar, dan lampu-lampu di sekitar kawasan mulai menyala. Gelas kelapa muda mereka hampir kosong, tapi cerita belum benar-benar usai. Karena sesungguhnya, yang mereka nikmati bukan hanya minuman segar di tangan, melainkan rasa hidup yang kembali pelan-pelan terasa.
Di tepi Danau GTC, di antara senja dan angin yang ramah, mereka menemukan satu hal sederhana yang sering terlupa:
bahwa bahagia kadang sesederhana duduk bersama, berbagi cerita, dan meneguk kelapa muda sampai hari benar-benar berganti malam.
Kalau mau dibuat lebih puitis, lebih jurnalistik keras, atau ditambah dialog langsung, tinggal bilang saja. (Ardhy M Basir)

