Koordinator pelaksana PDB, Dr. Fahrisal Husain, SE., M.Si., menegaskan bahwa Kampung Wisata Mangrove Monro-Monro memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Menurutnya, pengelolaan yang terstruktur dan berstandar akan memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya pada peningkatan kunjungan wisata, tetapi juga pada pola pikir dan kemandirian ekonomi warga.
“Pendampingan ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi tentang bagaimana masyarakat mampu menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri, mengelola potensi yang ada dengan standar yang baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Program PDB yang menjadi bagian dari pendanaan Pengabdian kepada Masyarakat periode 2023–2028 itu telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Warga merasakan adanya peningkatan angka kunjungan wisata sejak tim INTI melakukan pendampingan. Jalur tracking mangrove semakin tertata, spot-spot foto diperbaiki, dan promosi mulai digencarkan melalui berbagai kanal digital.
Bagi masyarakat Monro-Monro, mangrove bukan hanya deretan pohon di tepi laut. Ia adalah benteng alami dari abrasi, sumber penghidupan, sekaligus identitas kampung. Kini, dengan sentuhan edukasi dan penguatan kapasitas dari INTI, mangrove juga menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi.
Di tengah riak ombak yang tak pernah berhenti, Kampung Wisata Mangrove Monro-Monro perlahan menegaskan diri sebagai destinasi pesisir yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga tertata dan berdaya. Dari pesisir selatan Jeneponto, cerita tentang kebersamaan, komitmen, dan keberlanjutan itu terus tumbuh—setegar akar mangrove yang mencengkeram tanah, menjaga asa masyarakatnya. (Ardhy M Basir)

