Deby menjelaskan bahwa dalam skenario ekstrem, penghentian ekspor CPO Indonesia akan berdampak signifikan terhadap industri di berbagai negara, termasuk Jepang, Amerika Serikat, hingga kawasan Eropa.
Ia menilai kekuatan ini perlu dimanfaatkan secara strategis oleh pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Salah satunya melalui kebijakan hilirisasi agar CPO tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah seperti margarin, oleokimia, hingga produk perawatan kulit.
Deby mengapresiasi arah pemerintah yang mendorong hilirisasi industri sawit. Menurutnya, langkah tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Sebelumnya, Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa dominasi Indonesia atas komoditas kelapa sawit merupakan aset strategis nasional.
Dengan pengelolaan yang tepat, sektor ini dianggap mampu memperkuat ketahanan ekonomi, mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam, dan meningkatkan kemandirian bangsa.
Mentan menyatakan bahwa kekuatan sawit Indonesia sangat besar dan perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung perekonomian nasional. (*)

