“Dua lainnya ke arah Bulukumba,” bisiknya kepada petugas.
Informasi itu menghidupkan kembali mesin pencarian. Kamis sore, 07 Agustus 2025, Dusun Patompo menjadi titik akhir pelarian R alias M (21) dan I (42).
Saat disergap, keduanya melawan. Tiga kali tembakan peringatan membelah udara, namun tak diindahkan. Polisi akhirnya menembak terukur, lalu membawa mereka ke Puskesmas Walenrang.
Di halaman kantor polisi, bau tanah basah bercampur dengan aroma kopi dari dapur kecil di belakang. Malam itu, tiga wajah letih duduk di kursi besi, yang tak lagi sebagai buronan, tapi tahanan yang kembali.
“Kami bekerja lintas kabupaten, bahkan lintas polres, untuk memastikan tak ada satu pun yang lolos,” kata Bahtiar, Jumat, 08 Agustus 2025.
Ia menegaskan, penyelidikan belum usai. Polisi masih menelusuri kemungkinan adanya jaringan dan skema pelarian yang lebih besar.
Kasus ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana koordinasi cepat dan ketat dapat menutup semua pintu keluar bagi tahanan kabur, bahkan yang mencoba menghilang di tengah rimba perbatasan kabupaten, AKP Bahtiar, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Gowa, menandaskan. (Hdr)
