PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Makassar berubah arah. Dari tradisi aksi jalanan yang penuh tekanan politik, kini bergeser menjadi forum dialog dalam balutan May Day Fest 2026 di Lapangan Karebosi. Lebih rapi, lebih aman namun belum tentu lebih berpihak.
Koalisi Gerakan Rakyat (KGR) menegaskan, perubahan format ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda penyelesaian persoalan buruh yang sudah bertahun-tahun mengendap. Justru dengan dibukanya ruang dialog, pemerintah dituntut bergerak lebih cepat dan lebih tegas.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan komitmen pemerintah dalam melindungi hak buruh melalui regulasi dan membuka ruang aspirasi secara langsung. Namun bagi KGR, pernyataan tersebut belum cukup tanpa tenggat waktu dan langkah konkret yang bisa diukur.
“Ruang dialog sudah dibuka. Sekarang pertanyaannya, kapan diputuskan? Apa yang langsung berubah setelah ini?” menjadi nada kritis yang mengemuka di tengah peringatan May Day.
KGR membawa serangkaian tuntutan yang bukan baru, tetapi terus berulang tanpa penyelesaian :
1. Pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan baru yang berpihak pada buruh
2. Kenaikan upah layak berbasis kebutuhan hidup riil
3. Penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing
4. Jaminan perlindungan sosial dan kesehatan bagi seluruh pekerja

