Perjalanan Tri-Lintas (6) : Keberanian Para Perempuan Penerima Kusala

Zainal
Zainal 195 Pembaca
8 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Pertemuan ini berlangsung lebih lama dari waktu yang dijadualkan, lebih dari empat jam. Setiap penerima award punya cerita unik yang berbeda dari lainnya, kami menyimak pengalaman satu sama lain dengan penuh rasa empati, ada bagian yang mendebarkan, bahkan muncul ketegangan dan ketakutan luar biasa mendengar ancaman pembunuhan, tetapi juga ada bagian yang kocak dan lucu sehingga mengundang tawa kami semua, dan pada bagian cerita sedihnya tak ada komando, kami pun segera larut dalam kesedihan sampai menitikkan air mata.

Para perempuan yang mendapatkan penghargaan ini memiliki keberanian luar biasa, bahkan berani menerjang berbagai rintangan dan tantangan demi penegakan hak-hak asasi manusia, khususnya hak asasi perempuan dan anak semata demi kepentingan kemanusiaan. Namun, oleh masyarakatnya mereka dianggap sebagai para perempuan yang melanggar ajaran agama, dan tidak sedikit dari mereka dikafirkan dan dianggap murtad dari agamanya sehingga beberapa dari mereka dihalalkan darahnya atau diancam untuk dibunuh. Sundus Abbas asal Irak misalnya, sampai mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan oleh kelompok fundamentalis Islam karena dianggap mata-mata Barat yang akan merusak akidah umat Islam. Demikian juga dengan Aziza Siddiqui dari Afghanistan dan Susana Trimarco de Veron dari Argentina, keduanya dicurigai sebagai provokator, perempuan pemberontak yang berbahaya karena menentang pemerintah yang represif dan diktator.

Lain lagi cerita Ruth Halperin-Kaddari dari Israel. Dia berwarganegara Israel tapi sangat peduli terhadap penderitaan rakyat Palestina, khususnya perempuan dan anak-anak. Dia lalu bekerja menghimpun bantuan kemanusiaan serta membela secara masif para perempuan di Palestina yang dianggap musuh bebuyutan Israel. Dia dicurigai membela kepentingan musuh, padahal sejatinya dia membela kemanusiaan. Ruth lantang berbicara bahwa meskipun Palestina itu musuh bebuyutan Israel, namun hak asasi manusia penduduknya jangan dirampas, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Baginya, siapa pun, termasuk mereka yang dipandang sebagai musuh, tidak boleh dirampas hak asasinya, mereka tidak boleh mengalami kekerasan dan penderitaan untuk alasan apa pun, termasuk alasan perang dan konflik. Saya pribadi amat mengagumi sosok Ruth ini. Tidak semua orang mampu bersikap empati dan solidaritas kepada mereka yang dianggap musuh.

Baca juga :  Bhayangkari Ranting Sabbang Berbagi Kasih Di Bulan Puasa

Hal serupa dilakukan oleh Jennifer Louise Williams dari Zimbabwe dan Ilze Jaunalksne dari Latvia, mereka adalah dua perempuan yang sangat gigih menegakkan prinsip demokrasi melalui upaya penegakan hak asasi perempuan. Mereka terang-terangan melawan pemerintahnya yang korup dan tiranik. Begitu juga yang dilakukan penerima award dari Maladewa bernama Mariya Ahmed Didi. Dia adalah perempuan yang sangat berani melawan rezim otoriter di negaranya, dia tidak pernah merasa gentar di bawah todongan senjata. Menurutnya, rakyat Maladewa, khususnya para perempuan berhak mendapatkan kebebasan dari kungkungan pemuka agama dan pemerintah yang otoritarian. Perempuan jangan disuruh diam, tetapi pemerintahlah yang harus memenuhi hak-hak asasi warganya, terutama kaum perempuan. Dengan ungkapan lain, pemerintah harus berubah menjadi demokratis.

Cerita dari penerima penghargaan asal Arab lebih mengenaskan lagi. Dia adalah Samia al-Amoudi, seorang ilmuwan berprofesi sebagai dokter ahli kanker sekaligus juga Wakil Rektor Universitas King Abdul Aziz di Saudi Arabia. Samia bekerja mengedukasi perempuan Arab sehingga terhindar dari penyakit kanker payudara yang merupakan pembunuh nomor satu bagi perempuan muda di Arab Saudi. Untuk itulah dia sangat aktif memberikan penyuluhan dan mengedukasi masyarakat, terutama perempuan tentang bagaimana mencegah dan mengatasi penyakit kanker, khususnya kanker payudara. Dalam berbagai penyuluhan dan pembelajaran yang dia sampaikan di masyarakat, baik melalui televisi, radio dan media elektronik lainnya, dia terpaksa harus menunjukkan gambar payudara dan organ perempuan lainnya yang terkait dan beresiko terkena kanker.

Namun, aktivitasnya itu disalahpahami oleh ulama konservatif dan kelompok fundamentalis Islam. Dia dituduh melegalkan aksi pencabulan dan pornografi sehingga ditangkap polisi. Parahnya lagi, suaminya pun marah kepadanya lalu menceraikannya. Akan tetapi, anak-anak Samia memihak dia, termasuk anak tirinya gigih membelanya. Menurut Samia, kurangnya literasi kesehatan terkait organ-organ payudara menyebabkan penyakit ini mengganas di masyarakat, padahal penyakit itu bisa dicegah dengan perawatan organ-organ tubuh secara benar. Meski ditangkap polisi dan diceraikan suami serta dikucilkan dari masyarakatnya, Samia bergeming dan terus melanjutkan perjuangannya meski mendapatkan tantangan yang betubi-tubi baik dari keluarga maupun masyarakatnya. (Bersambung)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!