Puluhan Ribu Umat Hadiri Paskah Nasional 2026 di Manado, Gubernur Yulius Tekankan Pentingnya Menjaga Nilai Toleransi

Ramzy 892 Pembaca
6 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MANADO – Lautan manusia memadati kawasan Pohon Kasih Megamas Manado pada Rabu (08/04/26) untuk merayakan Paskah Nasional 2026. Dalam khotbahnya, Ketua Sinode GMIM, Pendeta Adolf Katuuk Wenas, menekankan bahwa esensi Paskah adalah panggilan bagi umat Kristiani untuk mempererat persatuan sebagai pengikut Yesus Kristus yang setia.

Ia mengingatkan bahwa keberagaman keyakinan di tanah air tidak boleh menjadi pemantik perpecahan. Sebaliknya, sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan kolektif seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang agama.

Lebih lanjut, Pdt. Wenas mengajak umat untuk melihat perbedaan suku dan ras bukan sebagai sekat, melainkan sebagai kekayaan yang harus dipersatukan di bawah pengakuan terhadap Sang Juru Selamat.

Pesan teduh juga datang dari Uskup Keuskupan Manado, Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC. Ia menegaskan bahwa perayaan bersama antara umat Protestan dan Katolik di Sulawesi Utara adalah bukti nyata sukacita atas iman kebangkitan Tuhan yang manifestasinya terlihat jelas dalam kerukunan hidup sehari-hari.

Khidmatnya acara semakin terasa saat rangkaian ibadah ditutup dengan doa lintas agama yang dipanjatkan oleh enam perwakilan pemuka agama (Kristen Protestan, Islam, Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan Kristen Katolik), melambangkan indahnya kebersamaan dalam bingkai kebinekaan.

Panggung kehormatan Paskah Nasional kali ini bertabur tokoh penting, mulai dari Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, hingga Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin dan Gubernur Sulut Yulius Selvanus. Hadir pula jajaran tokoh nasional asal bumi Nyiur Melambai seperti Theo Sambuaga dan ibunda Sekretaris Kabinet, Patris Rumbayan.

Dalam sambutannya, Hashim Djojohadikusumo mengapresiasi tema ‘Supaya Semua Menjadi Satu’ yang dinilai sangat relevan bagi kondisi bangsa saat ini.

Ia merefleksikan peristiwa agung dua milenium silam sebagai sebuah keajaiban dan pengorbanan besar Kristus untuk menebus dosa manusia. Menurutnya, momentum ini harus menjadi pemantik bagi setiap orang untuk senantiasa mengedepankan kasih dan menjaga persatuan.

Adik kandung Presiden Prabowo ini juga memuji Manado sebagai cermin keberhasilan Indonesia dalam merawat harmoni. Ia berharap pesan damai dari Sulawesi Utara ini dapat bergaung hingga ke kancah internasional sebagai teladan kerukunan global.

Baginya, energi Paskah harus mampu memperkuat solidaritas sosial di tengah dinamika dunia yang penuh tantangan. Ia menegaskan bahwa Manado telah membuktikan diri sebagai barometer toleransi, di mana nilai pengorbanan dan persatuan mendarah daging dalam masyarakat.

Mewakili Menteri Agama, Staf Khusus Gugun Gumilar memaparkan konsep tiga pilar harmoni: keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta sebagai fondasi kemanusiaan yang utuh.

Gugun mengajak seluruh hadirin untuk mengimplementasikan iman mereka secara nyata. “Harmoni yang tulus harus dimulai dari hubungan kita dengan Sang Pencipta hingga kepedulian pada alam sekitar,” tuturnya.

Menariknya, Gugun sempat mengutip pemikiran Sumitro Djojohadikusumo yang memicu riuh tepuk tangan hadirin, yakni pesan agar setiap individu menjadi penganut agama yang taat dan tekun mempelajari kitab suci masing-masing sebagai jalan menjadi warga negara yang baik.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version