Renungan Hari Lingkungan Dunia 2026: Tiga Peringatan, Satu Pertanyaan “Menata Ulang Hubungan Manusia dan Alam”

Ramzy 125 Pembaca
14 Menit baca

Oleh: Oswar Mungkasa (Pencinta Lingkungan)

DALAM rentang waktu kurang dari tiga minggu, dunia memperingati tiga momentum internasional yang berkaitan dengan alam dan keberlanjutan kehidupan. Pada 22 Mei diperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, disusul Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni, dan kemudian Hari Laut Sedunia pada 8 Juni.

Bagi sebagian orang, peringatan tersebut mungkin hanya menjadi bagian dari kalender tahunan yang datang dan pergi. Namun jika dicermati lebih jauh, rangkaian peringatan tersebut sesungguhnya menyimpan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar mengenai hubungan manusia dengan alam yang menopang kehidupannya.

Tiga Peringatan Lingkungan Global

Tiga peringatan terkait agenda lingkungan global sejatinya hadir dengan tema yang berbeda. Hari Keanekaragaman Hayati tahun ini mengajak masyarakat dunia untuk bertindak di tingkat lokal demi menghasilkan dampak global. Hari Lingkungan Hidup Sedunia menekankan pentingnya aksi nyata menghadapi tantangan iklim yang semakin mendesak. Sementara itu, Hari Laut Sedunia mengajak kita membayangkan kembali hubungan manusia dengan laut dan masa depan yang ingin dibangun bersama.

Sepintas, tidak ada yang luar biasa dari rangkaian peringatan tersebut. Setiap tahun dunia memang memiliki banyak hari peringatan mancanegara. Sebagian memperoleh perhatian luas, sebagian lainnya berlalu tanpa banyak disadari. Namun menarik bahwa isu keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut terus muncul secara berulang dalam kalender global, seolah-olah ada sesuatu yang perlu terus diingatkan kepada manusia.

Pada pandangan pertama, ketiganya tampak berbicara mengenai hal yang berbeda. Mulai dari menyoroti keragaman spesies dan ekosistem, lalu menyoroti berbagai tantangan lingkungan hidup, dan berakhir menyoroti laut sebagai penopang kehidupan bumi. Namun justru di sinilah letak pertanyaannya.

Mengapa dunia merasa perlu terus mengingatkan manusia tentang keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut? Apa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan? Adakah persoalan yang lebih mendasar yang menghubungkan berbagai isu tersebut di balik keragaman tema yang tampak di permukaan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin berkesesuaian ketika berbagai laporan ilmiah dan perdebatan kebijakan menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran lingkungan, penurunan kualitas ekosistem pesisir, hingga menurunnya kesehatan laut. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari perjanjian mancanegara hingga program konservasi setempat. Namun berbagai krisis ekologis masih terus berlangsung dan dalam banyak kejadian menunjukkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan.

Sepertinya ketiga peringatan tersebut tidak cukup dipahami hanya sebagai agenda tahunan yang datang dan pergi. Bisa jadi ketiganya sedang mengajak kita melihat sesuatu yang lebih mendasar daripada persoalan yang tampak di permukaan. Sesuatu yang berkaitan dengan cara manusia memahami alam, sekaligus memahami posisinya sendiri di dalam dunia yang menjadi tempat hidupnya.

Dari Alam sebagai Rumah Menuju Alam sebagai Sumber Daya

Bagi sebagian besar perjalanan sejarah manusia, alam bukanlah sesuatu yang berada di luar kehidupan manusia. Alam adalah tempat manusia hidup, mencari makan, memperoleh air, membangun tempat tinggal, dan memahami keberadaannya di dunia. Hutan, sungai, laut, gunung, dan berbagai unsur alam lainnya bukan sekadar bentang fisik, melainkan bagian dari ruang kehidupan yang menyatu dengan keseharian manusia.

Pada sebagian masyarakat tradisional, hubungan tersebut bahkan tercermin dalam berbagai nilai, pengetahuan, dan penerapan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Alam dipahami bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang harus dijaga agar tetap seimbang.

Seiring waktu, hubungan tersebut perlahan mengalami perubahan. Pertumbuhan penduduk, perkembangan teknologi, perluasan perdagangan, dan meningkatnya kebutuhan ekonomi mendorong manusia untuk mengelola dan memanfaatkan alam dalam skala yang lebih besar. Perubahan ini membawa banyak manfaat. Produksi pangan meningkat, transportasi berkembang, dan berbagai kemajuan ekonomi dimungkinkan.
Namun pada saat yang sama, perubahan tersebut juga menggeser cara pandang manusia terhadap alam.

Jika sebelumnya alam lebih sering dipahami sebagai ruang kehidupan bersama, perlahan-lahan alam mulai dipandang sebagai kumpulan sumber daya yang dapat diolah, dimanfaatkan, dan dioptimalkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Hutan menjadi sumber kayu. Sungai menjadi sumber air dan energi. Laut menjadi ruang produksi dan perdagangan. Tanah menjadi aset yang dapat menghasilkan nilai ekonomi.

Perubahan cara pandang ini tidak terjadi dalam semalam namun berlangsung secara bertahap dan kemudian menjadi bagian dari proses modernisasi yang membentuk dunia saat ini. Berbagai kemajuan yang dinikmati manusia tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mengelola sumber daya alam secara lebih efektif. Namun ketika logika pemanfaatan menjadi semakin ‘berkuasa’, hubungan manusia dengan alam mulai mengalami penyederhanaan.

Alam semakin sering dipahami melalui fungsi yang dapat diukur dan dimanfaatkan. Nilainya cenderung dilihat dari apa yang dapat dihasilkan, sementara berbagai fungsi ekologis yang menopang kehidupan sering kali kurang mendapatkan perhatian yang setara. Dalam keadaan seperti ini, keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut mulai diperlakukan sebagai isu yang berdiri sendiri dan dikelola dalam ruang kebijakan yang terpisah.

Padahal dalam kenyataannya, kehidupan manusia dan alam berkembang melalui hubungan yang jauh lebih rumit daripada berbagai kategori yang diciptakan untuk memudahkan pengelolaannya. Apa yang terjadi di hulu sungai dapat memengaruhi wilayah pesisir. Apa yang terjadi di laut dapat memengaruhi kehidupan di daratan. Demikian pula perubahan yang terjadi pada satu bagian ekosistem dapat menimbulkan dampak pada bagian lainnya.

Karena itu, sebelum membahas berbagai krisis yang tampak di permukaan, ada baiknya kita terlebih dahulu memahami bahwa kehidupan manusia dan alam sesungguhnya berkembang dalam hubungan yang jauh lebih erat daripada yang sering kita bayangkan.

Tiga Peringatan, Satu Sistem Kehidupan

Dalam kehidupan sehari-hari, keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut sering dipahami sebagai isu yang berbeda. Ada lembaga yang mengurus konservasi satwa dan tumbuhan, ada yang menangani pencemaran lingkungan, dan ada pula yang berhaluan pada pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Cara pengelompokan seperti itu tentu memudahkan pengelolaan dan pembagian tugas. Namun alam tidak selalu bekerja mengikuti pembagian yang dibuat manusia.

Apa yang terjadi di satu tempat sering kali memengaruhi tempat lain. Limbah yang dibuang ke sungai pada akhirnya dapat bermuara ke laut. Kerusakan hutan di daerah hulu dapat meningkatkan erosi dan pendangkalan di kawasan pesisir. Perubahan tata guna lahan di daratan dapat memengaruhi kualitas perairan yang menjadi habitat berbagai organisme laut. Sebuah persoalan yang tampak terjadi di daratan ternyata dapat berakhir sebagai persoalan di laut.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version