Menurutnya, kegiatan budaya seperti Mattompang Pusaka harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Tradisi ini merupakan bentuk kecintaan terhadap akar budaya bangsa yang perlu diwariskan kepada generasi penerus.
“Tentu harapan kita momentum ini bukan hanya acara seremonial, tetapi menjadi wujud nyata kecintaan terhadap budaya dan sejarah yang kita miliki,” katanya.
Bupati perempuan pertama di Sinjai itu juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung pelestarian adat dan budaya. Sebab, di dalamnya tersimpan banyak pelajaran berharga tentang kehidupan, gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah.
Lebih lanjut, Ratnawati menitipkan sejumlah harapan agar tradisi Mattompang Pusaka terus berkembang. Pertama, nilai kebersamaan dan gotong royong yang tercermin dalam prosesi adat tersebut harus terus dipupuk dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, kegiatan ini diharapkan dapat berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat.
“Saya berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai ritual tahunan, tetapi juga mampu menjadi magnet wisata budaya yang berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat Kabupaten Sinjai,” pungkasnya.
Digelarnya Mattompang Pusaka di Benteng Balangnipa yang merupakan salah satu ikon sejarah Sinjai semakin menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur sebagai sumber inspirasi dan kekuatan dalam membangun masa depan daerah yang berkarakter dan berbudaya. (Iz)
