Satu Langit, Dua Waktu, Satu Makna Lebaran

Ramzy
Ramzy 820 Pembaca
2 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Muh. Thalib Ramadhan (Ramzi) Jurnalis Pedoman Rakyat

Lebaran di Indonesia selalu datang dengan satu pelajaran yang tak pernah usang: bahwa perbedaan adalah kenyataan yang harus dirangkul, bukan diseragamkan. Penetapan 1 Syawal yang kerap berbeda antara hisab dan rukyatul hilal seolah menjadi pengingat tahunan bahwa keyakinan dan cara pandang bisa berjalan di jalur yang tidak selalu sama. Namun di negeri yang terbiasa hidup dalam keberagaman, perbedaan itu tidak pernah benar-benar menjadi jurang. Ia justru menjadi ruang untuk belajar saling memahami, tanpa kehilangan arah kebersamaan.

Di balik dinamika itu, Lebaran tetap hadir sebagai momen yang menenangkan batin. Ia bukan sekadar tentang hari dan tanggal, melainkan tentang perjalanan spiritual yang mencapai puncaknya, "kembali pada kesederhanaan hati." Di rumah-rumah sederhana hingga kota-kota besar, takbir berkumandang dengan getaran yang sama, meski mungkin pada waktu yang berbeda. Ketupat tersaji, tangan-tangan saling berjabat, dan kalimat maaf mengalir tanpa syarat. Semua itu menegaskan bahwa makna Lebaran jauh lebih luas daripada sekadar keseragaman waktu.

Justru dalam perbedaan itulah, kedewasaan sosial kita diuji dan dibuktikan. Kita belajar bahwa menghormati pilihan orang lain adalah bagian dari iman dan kemanusiaan. Tidak perlu menunggu kesamaan untuk bisa berbagi kebahagiaan, tidak perlu keseragaman untuk menjaga persaudaraan. Lebaran mengajarkan bahwa kebersamaan sejati lahir dari sikap saling memberi ruang, saling menguatkan, dan saling menjaga perasaan satu sama lain.

Pada akhirnya, Lebaran adalah tentang pulang, "pulang ke hati yang lebih lapang, ke sikap yang lebih bijaksana, dan ke hubungan yang lebih hangat." Ia mengingatkan bahwa kemenangan bukanlah soal siapa yang lebih dulu merayakan, melainkan siapa yang mampu memelihara kasih sayang di tengah perbedaan. Dalam gema takbir yang mungkin tak serentak, semoga kita tetap seirama dalam satu hal: menjaga persaudaraan, merawat kebersamaan, dan menempatkan kemanusiaan di atas segala perbedaan.

Baca juga :  Sambut Hari Bhayangkara Ke-77, Polres Pelabuhan Makassar Ajak Masyarakat Ikut Lomba Konten Kreatif

Selamat merayakan Idulfitri 1447 Hijriah – 2026 Masehi. “Mewakili keluarga besar Muh. Thalib Ramadhan (Ramzi), memohon maaf lahir dan batin.”

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!