Oleh : Ardhy M Basir
Ada kabar yang tak pernah benar-benar siap kita terima: tentang kelahiran yang seharusnya membawa harapan panjang, namun justru beriringan dengan perpisahan.
M. Harris Junior Bin Harris Arthur Hedar lahir pada 7 April 2026.
Di hari yang sama, ia wafat.
Sehari—barangkali terdengar begitu singkat bagi manusia. Namun dalam kehendak Allah, tidak ada yang benar-benar sia-sia. Tidak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Semuanya tepat, sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan.
Harris Junior datang dalam kesunyian yang suci, dan kembali dalam kesunyian yang sama. Ia belum sempat mengenal dunia—belum sempat melihat terang pagi, belum sempat merasakan hangatnya waktu yang panjang bersama orang-orang yang mencintainya.
Namun Allah lebih dulu memanggilnya.
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.
Kalimat itu kini bukan sekadar ucapan. Ia menjelma menjadi penguat yang harus dipeluk erat oleh hati yang sedang kehilangan.
Dalam ajaran Islam, kepergian seorang anak dalam keadaan suci bukanlah akhir yang menyedihkan semata. Ia justru membawa kabar tentang kemuliaan. Anak-anak yang wafat sebelum baligh diyakini berada dalam lindungan rahmat Allah, terbebas dari dosa, dan kelak menjadi penolong bagi kedua orang tuanya di akhirat.
Sebuah hadis menyebutkan bahwa mereka akan menunggu di pintu surga—enggan masuk hingga orang tuanya menyusul, lalu menggandengnya menuju keabadian.
Di titik inilah, duka menemukan maknanya.
Bahwa kehilangan ini bukan hanya tentang air mata, tetapi juga tentang harapan. Harapan akan pertemuan kembali di tempat yang tidak lagi mengenal perpisahan.
Kepergian M. Harris Junior juga menjadi cermin bagi kita semua.
Betapa hidup yang sering kita anggap panjang, ternyata bisa selesai bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Kullu nafsin dzā’iqatul maut—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Ayat ini kembali mengingatkan, bahwa hidup bukan soal seberapa lama kita tinggal, melainkan seberapa siap kita pulang.
Kita yang masih diberi waktu, sering kali menunda: menunda berbuat baik, menunda memperbaiki diri, menunda mendekat kepada Allah. Seolah hidup adalah sesuatu yang pasti panjang. Padahal, kisah Harris mengajarkan sebaliknya—bahwa waktu adalah rahasia yang tidak pernah bisa kita tebak.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, kesedihan ini tentu tak terhingga.
Namun di balik itu, tersimpan kemuliaan yang besar: kesempatan untuk bersabar, untuk ridha, dan untuk menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah.
Sebab tidak ada musibah yang luput dari pahala.
Tidak ada air mata yang sia-sia.
M. Harris Junior mungkin hanya singgah sehari di dunia.
Namun insyaAllah, ia telah lebih dahulu sampai pada kehidupan yang abadi.
Dan bagi kita, yang masih melangkah di dunia yang fana ini—
kisahnya adalah panggilan sunyi:
Bahwa hidup bukan untuk ditunda,
melainkan untuk dipersiapkan.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan kembali—
hanya menunggu waktu.

