Kepergian M. Harris Junior juga menjadi cermin bagi kita semua.
Betapa hidup yang sering kita anggap panjang, ternyata bisa selesai bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Kullu nafsin dzā’iqatul maut—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Ayat ini kembali mengingatkan, bahwa hidup bukan soal seberapa lama kita tinggal, melainkan seberapa siap kita pulang.
Kita yang masih diberi waktu, sering kali menunda: menunda berbuat baik, menunda memperbaiki diri, menunda mendekat kepada Allah. Seolah hidup adalah sesuatu yang pasti panjang. Padahal, kisah Harris mengajarkan sebaliknya—bahwa waktu adalah rahasia yang tidak pernah bisa kita tebak.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, kesedihan ini tentu tak terhingga.
Namun di balik itu, tersimpan kemuliaan yang besar: kesempatan untuk bersabar, untuk ridha, dan untuk menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah.
Sebab tidak ada musibah yang luput dari pahala.
Tidak ada air mata yang sia-sia.
M. Harris Junior mungkin hanya singgah sehari di dunia.
Namun insyaAllah, ia telah lebih dahulu sampai pada kehidupan yang abadi.
Dan bagi kita, yang masih melangkah di dunia yang fana ini—
kisahnya adalah panggilan sunyi:
Bahwa hidup bukan untuk ditunda,
melainkan untuk dipersiapkan.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan kembali—
hanya menunggu waktu.

