Lelaki itu tahu bagaimana rasanya kehilangan. Perempuan itu belum pernah benar-benar kehilangan apa pun. Ia masih percaya semua cerita berakhir bahagia. Lelaki itu tahu, kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.
“Bapak sering makan di sini?” tanya perempuan itu.
“Dulu sering. Sekarang… baru kembali lagi.”
“Kembali?”
“Iya. Kadang orang perlu waktu untuk berani datang lagi ke tempat yang pernah menyimpan kenangan.”
Perempuan itu terdiam. Ia tak sepenuhnya mengerti, tapi ia mencoba memahami. Matanya lembut, tak menghakimi, tak pula tergesa-gesa menyimpulkan.
Jelang buka puasa, Makassar mulai gelap. Suara motor dan klakson bercampur dengan teriakan pelayan yang mengantar pesanan. Tapi di meja itu, percakapan mereka mengalir pelan seperti kuah pallubasa yang menghangatkan perut.
Lelaki itu tak lagi terlihat setua tadi. Perempuan itu tak lagi tampak sekadar gadis muda. Di antara mereka ada ruang yang pelan-pelan terisi oleh cerita—tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang cita-cita sederhana seperti memiliki rumah kecil dengan halaman yang cukup untuk menanam cabai dan kemangi.
Pandangan mereka beberapa kali beradu tanpa sengaja.
“Maaf,” kata perempuan itu.
“Tidak apa,” jawab lelaki itu sambil tersenyum.
Kadang, pertemuan memang sesederhana itu. Tak perlu direncanakan, tak perlu dibumbui janji. Cukup duduk bersama, makan semangkok pallubasa, dan membiarkan waktu bekerja dengan caranya sendiri.
Ketika mangkok mereka mulai kosong, tak satu pun dari mereka ingin segera berdiri. Ada jeda yang manis, seperti sisa kuah di dasar mangkok yang sayang ditinggalkan.
“Apa kita akan bertemu lagi?” tanya perempuan itu pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Lelaki itu menatap mangkoknya, lalu menatap perempuan itu.
“Kalau sendok dan mangkok dipertemukan sekali, biasanya mereka akan bertemu lagi di dapur yang sama.”
Perempuan itu tersenyum. Kali ini lebih dalam.
Di warung pallubasa itu, tak ada yang tahu bahwa sebuah kisah baru sedang dimulai. Kisah tentang dua jiwa yang berbeda musim, tapi menemukan hangat yang sama.
Seperti sendok dan mangkok.
Tak pernah dirancang untuk bersama, tapi selalu saling melengkapi ketika waktu mempertemukan. ( Ardhy M Basir )

