Oleh: Ardhy M Basir
Ahad malam, 1 Maret 2026, di ruang hangat Virendy Cafe Makassar, perayaan HUT ke-79 Pedoman Rakyat mengalir dalam tawa, doa, dan nostalgia. Lilin-lilin kecil berdiri tegak di atas kue ulang tahun, menyala seperti harapan yang tak pernah benar-benar padam.
Namun bagi saya, sepotong kue itu bukan sekadar simbol usia panjang sebuah media. Ia adalah penanda perjalanan sunyi yang pernah kami lalui—saya dan perempuan yang berdiri di samping saya malam itu.
Tahun 2007 menjadi garis patah dalam hidup kami. Saat Pedoman Rakyat mulai tak lagi terbit, mesin-mesin cetak seakan ikut membungkam mimpi. Saya, yang terbiasa hidup dalam riuh redaksi dan bau tinta koran, mendadak berada di titik nol. Tanpa penghasilan. Tanpa kepastian.
Tanpa arah yang jelas.
Di masa itu, harga diri terasa lebih rapuh dari kertas koran yang tak lagi terbit.
Namun di rumah kecil kami, ada satu hati yang tak pernah goyah. Dialah istri saya. Perempuan yang tak banyak bicara tentang kesulitan, tapi diam-diam memikulnya bersama saya. Tanpa keluh. Tanpa malu.
Ketika saya terpuruk, ia tidak menyalahkan keadaan. Ia mencari jalan.
“Kalau tidak ada lagi yang bisa diandalkan, kita jualan saja di depan rumah,” katanya suatu malam, dengan suara yang lebih kuat dari kegelisahan saya.
Maka dimulailah lembaran baru itu. Jualan makanan jadi di depan rumah. Dengan meja sederhana, kompor kecil, dan doa yang tak pernah putus. Ia bangun lebih pagi dari matahari, menyiapkan masakan, melayani pembeli dengan senyum yang sama hangatnya setiap hari.
Usaha itu terus ia lakoni hingga hari ini. Tanpa pernah merasa rendah. Tanpa pernah merasa malu.
