Ia pun menyayangkan pendekatan yang digunakan Feri Amsari yang dinilai hanya berfokus pada isu penyusutan lahan, tanpa melihat adanya faktor pendongkrak produksi dari sisi teknologi dan intervensi kebijakan.
“Kalau hanya melihat luas sawah yang katanya berkurang, tapi tidak melihat peningkatan produktivitas dari intervensi pemerintah, itu jelas cara berpikir yang tidak utuh,” tegasnya.
Lebih jauh, Farid menilai bahwa kesalahan dalam cara membaca persoalan ini berpotensi menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan publik.
“Kalau cara berpikirnya sudah keliru sejak awal, maka kesimpulan yang diambil juga pasti salah. Ini yang berbahaya, karena bisa membentuk persepsi publik yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan hasil dari berbagai upaya terintegrasi, mulai dari perbaikan irigasi, mekanisasi pertanian, penggunaan benih unggul, hingga dukungan distribusi pupuk.
Karena itu, Farid mengingatkan agar kritik terhadap isu strategis nasional disampaikan secara utuh dan berbasis data, bukan dengan pendekatan parsial yang justru berpotensi melemahkan kepercayaan publik terhadap capaian negara.
“Pangan itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Tidak bisa dibahas dengan cara berpikir yang sempit dan tanpa pijakan data yang jelas,” pungkasnya. (*)

