Contoh sederhana dari perbuatan dusta yang dilakukan berulang-ulang adalah, ketika seorang penggembala yang berupaya membohongi masyarakat akan kehadiran serigala yang mengancam binatang ternaknya. Hal ini dilakukan sang penggembala beberapa kali dan ia merasa senang dengan sikapnya membohongi orang lain.
Kedua, ingkar. Kalau orang mulai mengetahui dustanya, maka ia segera mengingkarinya. Ia pun membela diri bahwa yang dimaksudkannya tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh mereka yang mendengarnya. Orang tersebut tidak segan untuk membantah kata-kata yang pernah diucapkan sebelumnya.
Pengingkaran yang dilakukannya, merupakan konsekuensi dari hobinya yang memang senang berdusta. Bantahannya sendiri jelas-jelas memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia sendiri memang sedang berdusta, dan anehnya banyak yang mempercayainya.
Ketiga, ketika ia sudah terdesak, maka ia pun semakin keras kepala dan membangkang. Ia akan mencari seribu satu alasan untuk membela diri. Ia seperti berusaha menegakkan benang basah, meskipun orang sekelilingnya tahu bahwa ia benar-benar telah berdusta. Semua kebenaran yang dikemukakan oleh orang lain akan ditolaknya, karena mata hatinya telah tertutup untuk menerima kebenaran.
Akhirnya, kita teringat akan sebuah lagu yang pernah populer, “Dunia adalah Panggung sandiwara”. Banyak orang menganggap kebohongan sebagai hal biasa dan kata salah seorang kawan yang menanggapi tulisan saya kemarin, menulis, “Orang-orang seperti ini sepertinya lupa, kalau seluruh perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hari esok.”
Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Berbuatlah sesuka hati mu, apapun yang ingin engkau lakukan, suatu saat engkau akan diganjar dengan apa yang pernah kau perbuat.” Allah A’lam. ***
Makassar, 25 April 2022