Oleh : H Hasaruddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar
Dalam kitab Bulugh al- Maram hadis nomor 1513, Rasulullah SAW bersabda “Ciri orang munafik ada tiga; Jika ia berkata, ia berdusta, jika ia berjanji, ia abaikan janji yang telah diucapkannya, dan jika ia diberi amanah, ia mengingkari amanah yang telah dipercayakan kepadanya. Muttafaq Alaihi.”
Dusta, sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Iqbal, ialah ketika seseorang menyampaikan suatu berita yang sesungguhnya berita tersebut tidak ada, atau memoles berita yang tidak sesuai dengan kejadian dan keadaan yang sebenarnya.
Dusta merupakan salah satu penyakit hati yang dapat menyerang siapa saja. Bahkan, dusta kadang sudah menjadi hobi bagi sebagian manusia. Anehnya, manusia masih menaruh kepercayaan kepada seseorang yang gemar berdusta.
Dusta merupakan induk segala dosa, Alquran sendiri mengungkapkap kurang lebih 266 kali tentang dusta yang tersebar dalam berbagai surah dan ayat.
Muhammad Iqbal, menulis tiga cara yang digunakan oleh seseorang untuk berdusta dan upaya mempertahankan kedustaan mereka.
Pertama, angan- angan. Mereka yang senantiasa berdusta, senantiasa dibuai dengan angan-angan bahwa perbuatan yang mereka lakukan tersebut tidak salah. Orang tersebut menganggap bahwa perbuatan dusta yang ia lakukan merupakan hal yang biasa, dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran.
Alquran surat al- Kahfi ayat 103- 104, Allah SWT berfirman, “Katakanlah : Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik- baiknya.”
Contoh sederhana dari perbuatan dusta yang dilakukan berulang-ulang adalah, ketika seorang penggembala yang berupaya membohongi masyarakat akan kehadiran serigala yang mengancam binatang ternaknya. Hal ini dilakukan sang penggembala beberapa kali dan ia merasa senang dengan sikapnya membohongi orang lain.
Kedua, ingkar. Kalau orang mulai mengetahui dustanya, maka ia segera mengingkarinya. Ia pun membela diri bahwa yang dimaksudkannya tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh mereka yang mendengarnya. Orang tersebut tidak segan untuk membantah kata-kata yang pernah diucapkan sebelumnya.
Pengingkaran yang dilakukannya, merupakan konsekuensi dari hobinya yang memang senang berdusta. Bantahannya sendiri jelas-jelas memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia sendiri memang sedang berdusta, dan anehnya banyak yang mempercayainya.
Ketiga, ketika ia sudah terdesak, maka ia pun semakin keras kepala dan membangkang. Ia akan mencari seribu satu alasan untuk membela diri. Ia seperti berusaha menegakkan benang basah, meskipun orang sekelilingnya tahu bahwa ia benar-benar telah berdusta. Semua kebenaran yang dikemukakan oleh orang lain akan ditolaknya, karena mata hatinya telah tertutup untuk menerima kebenaran.
Akhirnya, kita teringat akan sebuah lagu yang pernah populer, “Dunia adalah Panggung sandiwara”. Banyak orang menganggap kebohongan sebagai hal biasa dan kata salah seorang kawan yang menanggapi tulisan saya kemarin, menulis, “Orang-orang seperti ini sepertinya lupa, kalau seluruh perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hari esok.”
Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Berbuatlah sesuka hati mu, apapun yang ingin engkau lakukan, suatu saat engkau akan diganjar dengan apa yang pernah kau perbuat.” Allah A'lam. ***
Makassar, 25 April 2022