400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Dari Makassar, Menggema untuk Dunia

Ramzy
Ramzy 205 Pembaca
4 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Waktu boleh saja berlalu hingga empat abad lamanya, namun nama besar Syekh Yusuf Al-Makassari sama sekali tidak pernah pudar. Menginjak usia ke-400 tahun sejak kelahirannya pada 1626 silam, karomah, pemikiran, dan gelora perjuangan sang ulama sufi masih tertanam kuat di hati masyarakat.

​Tahun 2026 ini menjadi momentum yang kian istimewa. Nama Syekh Yusuf kini resmi terdaftar dalam rangkaian anniversary UNESCO. Sebuah pengakuan global yang menegaskan bahwa pengaruh sang pejuang melampaui batas-batas negara.

​Fakta historis inilah yang memantik semangat Ikatan Keluarga Besar (IKB) Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Ujung Pandang untuk mengambil peran garis depan. Mereka berkomitmen penuh mengawal dan menyukseskan jalannya peringatan Haul ke-400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari yang rencananya akan digelar awal bulan Juli .

​"IKB PPSP IKIP Ujung Pandang akan selalu mengambil peran dalam haul Syekh Yusuf. Kita ingin pelaksanaan haul ke-400 tahun ini gemanya tidak hanya dirasakan oleh warga Gowa atau Sulawesi Selatan saja, tapi harus merasuk hingga ke pelosok Nusantara dan mancanegara," ujar Ketua Umum IKB PPSP IKIP Ujung Pandang, Prof. Harris Arthur Hedar, dengan nada optimis.

​Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Harris saat memimpin rapat pemantapan bersama jajaran panitia di Hotel Claro Makassar, Jumat (22/5/2026). Pertemuan strategis itu turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Ketua Panitia Farouk M. Beta, Sekjen IKB PPSP Waris Ardhy, serta mantan Kajati Sulsel, Leonard Eben Ezer Simanjuntak.

​Pahlawan Dua Negara, Kebanggaan Dunia

​Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Syekh Yusuf bukan sekadar nama di buku-buku sejarah. Beliau adalah simbol keteguhan iman yang hakiki, keberanian tanpa gentar melawan kolonialisme VOC, sekaligus mercusuar keilmuan. Sepanjang hidupnya, tak kurang dari 50 kitab lahir dari buah pikirannya yang jernih.

Baca juga :  Cek Kesiapan Pengamanan, Kapolres Pelabuhan Makassar Tinjau Pospam Ketupat 2024 dan Bagikan Bingkisan

​Keunikan sejarah juga mencatat Syekh Yusuf sebagai satu-satunya putra Indonesia yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh dua negara sekaligus: oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1995, dan disusul oleh Pemerintah Afrika Selatan pada tahun 2005 atas jasanya menentang penindasan di tanah asing tempat beliau diasingkan.

​"Beliau bukan hanya berdakwah, melainkan ikut angkat senjata secara fisik melawan penjajah. Sangat wajar jika hingga hari ini, setiap sendi kehidupan dan kegiatan yang berkaitan dengan Syekh Yusuf selalu menggema kuat," lanjut Prof. Harris.

​Lebih dari Sekadar Seremoni

​Dengan masuknya peringatan ini dalam kalender resmi UNESCO, tantangan bagi panitia tentu kian besar untuk mengemas acara yang berbobot dan berdampak luas. Di sinilah IKB PPSP IKIP Ujung Pandang ingin memastikan bahwa kegiatan ini tidak terjebak dalam rutinitas tahunan yang kering.

​Bagi mereka, haul kali ini adalah momentum refleksi budaya dan spiritual yang masif. Ada pesan kemanusiaan universal yang harus disampaikan kepada generasi muda, tentang bagaimana seorang manusia dari Timur Nusantara bisa menginspirasi peradaban dunia.

​"Karena itu, haul yang digelar setiap tahun ini bukan sekadar seremoni keagamaan belaka. Ini adalah momentum penting untuk merawat ingatan kolektif kita semua tentang warisan perjuangan dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur," pungkas Prof. Harris Arthur Hedar menutup arahannya.

​Melalui sinergi solid yang digalang oleh IKB PPSP IKIP Ujung Pandang, peringatan 400 tahun ini diharapkan menjadi jembatan sejarah—membawa keteladanan masa lalu Syekh Yusuf untuk menjawab tantangan masa depan bangsa. ( Ardhy M Basir )

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!