PEDOMANRAKYAT, JAKARTA — Muhammad Farid Muttaqin Iskandar, Bidang Potren MUI yang juga merupakan putra Ketua Umum MUI, menilai pernyataan Feri Amsari terkait swasembada pangan menunjukkan kekeliruan mendasar dalam cara memahami sektor pertanian.
Farid mencontohkan secara konkret bagaimana peningkatan produksi pangan justru terjadi di lapangan melalui berbagai intervensi pemerintah. Ia menjelaskan, ukuran swasembada tidak bisa dilihat semata dari luas lahan, melainkan dari total produksi yang dihasilkan.
“Misalnya saya punya sawah satu hektare, sebelumnya hanya menghasilkan sekitar 5 ton. Tapi ketika ada perbaikan pengairan, saya bisa tanam dua sampai tiga kali dalam setahun. Artinya produksi saya bukan lagi 5 ton, tapi bisa 10 sampai 15 ton dalam setahun,” ujar Farid.
Ia menambahkan, dukungan alat mesin pertanian modern juga memberikan dampak signifikan terhadap hasil panen petani.
“Kalau saya dapat bantuan combine, panen jadi lebih cepat dan kehilangan hasil bisa ditekan. Gabah tidak banyak yang jatuh atau terbuang. Hasil yang saya dapat otomatis lebih besar,” lanjutnya.
Selain itu, penggunaan benih unggul serta kemudahan akses pupuk turut meningkatkan produktivitas per hektare.
“Dengan bibit yang lebih baik, yang sebelumnya hanya 5 ton per hektare bisa meningkat jadi 5,5 ton atau lebih. Ditambah pupuk yang sekarang tidak lagi sulit didapat, tentu ini sangat membantu petani meningkatkan hasil,” jelas Farid.
Menurutnya, seluruh faktor tersebut merupakan realitas yang tidak bisa diabaikan dalam menilai capaian swasembada pangan nasional.

