Apa yang Sebenarnya Kita Kurbankan Hari Ini? Refleksi Idul Adha di Tengah Ketimpangan dan Pudarnya Solidaritas

Ramzy
Ramzy 975 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Dr. Ir. Oswar Muadzin Mungkasa, MURP

MENJELANG Idul Adha, gema takbir mulai terdengar di berbagai tempat. Di masjid dan mushala, panitia kurban mulai sibuk mendata calon penerima, menyiapkan kupon pembagian, hingga mengatur distribusi kepada warga.

Di banyak kampung, Idul Adha masih menjadi salah satu saat kebersamaan yang paling terasa. Orang berkumpul, saling membantu, memasak bersama, dan berbagi dengan tetangga sekitar. Namun di balik suasana keagamaan dan hangat tersebut, Idul Adha juga diam-diam memperlihatkan wajah lain Indonesia berupa ketimpangan yang masih nyata di tengah masyarakat.

Bagi sebagian keluarga, membeli daging mungkin bukan lagi persoalan besar. Tetapi bagi sebagian lainnya, daging kurban masih menjadi sesuatu yang hanya bisa dinikmati setahun sekali. Di tengah pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan berbagai narasi kemajuan, masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan yang nyaris tidak terlihat.

Ada pekerja informal yang penghasilannya makin tidak menentu. Ada lansia yang bertahan hidup dari bantuan anak dan tetangga. Ada buruh harian yang harus menghitung pengeluaran dengan sangat hati-hati agar dapur tetap menyala. Ada pula keluarga di kawasan padat perkotaan yang hidup berdempetan di tengah mahalnya biaya hidup dan semakin sempitnya ruang sosial.

Karena itu, Idul Adha sesungguhnya bukan hanya tentang ritual penyembelihan hewan kurban. Tetapi merupakan pengingat tentang pentingnya solidaritas sosial di tengah kehidupan yang semakin individualistik. Dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kurban tidak pernah semata-mata berbicara tentang kehilangan. Namun berbicara tentang keikhlasan, tentang kesediaan menempatkan nilai yang lebih besar di atas kepentingan pribadi. Ada pelajaran tentang menahan ego, tentang kepatuhan moral, dan tentang keberanian untuk berbagi.

Baca juga :  Pemkab Sinjai Gelar Peringatan Nuzulul Qur'an 1443 Hijriah di Masjid Islamic Center

Sayangnya, dalam kehidupan terkini hari ini, semangat semacam itu justru terasa semakin mahal. Kita hidup di zaman ketika orang berlomba mengumpulkan banyak hal, tetapi semakin sulit berbagi ruang bagi sesama. Ruang publik dipenuhi persaingan, media sosial dipenuhi pencitraan, sementara solidaritas sosial perlahan bergerak menjadi sesuatu yang basa-basi. Kita semakin mudah menunjukkan kepedulian di layar telepon genggam, tetapi semakin jarang benar-benar hadir dalam kehidupan orang lain.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!