Oleh : Ardhy M Basir
Agenda Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan yang dijadwalkan berlangsung di Graha Pena pada Selasa, 02 Juni 2026, kini memicu riuh rendah kegelisahan. Bukan karena antusiasme menyambut nakhoda baru, melainkan karena aroma tak sedap dari balik layar yang makin menyengat. Pilihan lokasi ini mempertegas indikasi adanya skenario “curang” yang dilakoni kelompok tertentu demi memuluskan jalan calon jagoan mereka untuk menguasai PWI Sulsel.
Logika publik, terutama para kuli tinta yang terbiasa berpikir kritis, dipaksa menerima kontradiksi yang menggelikan.
Bagaimana mungkin Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar pada Minggu dan Senin (24-25 Mei 2026) bisa terlaksana dengan megah di hotel, sementara Konferensi PWI—yang merupakan hajatan terbesar, “pestanya” para wartawan se-Sulsel untuk menentukan arah organisasi—justru harus tergusur ke Graha Pena?
Sungguh sebuah ironi yang membingungkan. Di satu sisi organisasi tampak begitu royal, namun di sisi lain, saat momentum sakral penentuan masa depan organisasi tiba, PWI mendadak bersikap layaknya entitas yang pailit.

