Konferensi PWI Sulsel di Graha Pena: Pesta Demokrasi Wartawan yang Dipaksa ‘Miskin’ Demi Kepentingan Kelompok”

Ramzy
Ramzy 436 Pembaca
3 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh : Ardhy M Basir

​Agenda Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan yang dijadwalkan berlangsung di Graha Pena pada Selasa, 02 Juni 2026, kini memicu riuh rendah kegelisahan. Bukan karena antusiasme menyambut nakhoda baru, melainkan karena aroma tak sedap dari balik layar yang makin menyengat. Pilihan lokasi ini mempertegas indikasi adanya skenario "curang" yang dilakoni kelompok tertentu demi memuluskan jalan calon jagoan mereka untuk menguasai PWI Sulsel.

​Logika publik, terutama para kuli tinta yang terbiasa berpikir kritis, dipaksa menerima kontradiksi yang menggelikan.

​Bagaimana mungkin Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar pada Minggu dan Senin (24-25 Mei 2026) bisa terlaksana dengan megah di hotel, sementara Konferensi PWI—yang merupakan hajatan terbesar, "pestanya" para wartawan se-Sulsel untuk menentukan arah organisasi—justru harus tergusur ke Graha Pena?

​Sungguh sebuah ironi yang membingungkan. Di satu sisi organisasi tampak begitu royal, namun di sisi lain, saat momentum sakral penentuan masa depan organisasi tiba, PWI mendadak bersikap layaknya entitas yang pailit.

​Pertanyaannya sederhana namun menohok: Mengapa untuk urusan sertifikasi anggarannya ada, tetapi untuk ruang demokrasi yang adil bagi seluruh calon, anggarannya mendadak "pudar"?

​Alasan klasik bahwa PWI tidak memiliki cukup dana untuk menyewa tempat yang lebih representatif dan netral adalah argumen yang sangat rapuh, jika tidak mau disebut sebagai pembodohan. Alasan "baku minim" dana ini justru mempertebal kecurigaan dan melahirkan keraguan besar bagi calon-calon lain yang siap bertarung secara sehat.

​Graha Pena bukan sekadar gedung. Di dalamnya ada keterikatan emosional, struktural, dan basis kekuatan dari kubu tertentu yang saat ini sangat berambisi mencengkeram PWI Sulsel. Menempatkan konferensi di sana sama saja dengan membawa petarung ke dalam kandang macan milik salah satu kontestan. Di mana letak asas fair play?

Baca juga :  Efraim Tolan Allositandi Jabat Kepsek SMPN 2 Rantepao, Tarto Derias Tangkeallo Masuk di SMPN 3 Buntao Toraja Utara

​Jika sejak awal pemilihan lokasi saja sudah sarat dengan muatan kepentingan dan minim transparansi, bagaimana kita bisa memercayai legitimasi hasil konferensi nanti?

​PWI Sulsel adalah rumah bersama bagi para pencari kebenaran, bukan properti milik kelompok atau korporasi tertentu yang bisa disetir sesuka hati melalui kepura-puraan finansial. Jangan biarkan marwah organisasi wartawan tertua ini tergadaikan hanya demi syahwat kekuasaan yang dikemas dalam skenario yang amat amat amat kasar.

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!