Antara Luka, Kehidupan, dan Persepsi Tentang Melahirkan Sophia Sarasvati

Ramzy
Ramzy 288 Pembaca
3 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Sebuah refleksi pun mengalir dari peristiwa itu. “Oh, ini yang namanya melahirkan,” ujarnya. Lalu pertanyaan bergulir di benaknya: Apa yang sebenarnya diharapkan perempuan dari melahirkan? Apakah memiliki anak selalu berarti kebahagiaan dan terbebas dari kesendirian?

Dua hari sebelum operasi, perjuangan panjang telah dimulai di sebuah kamar kecil Puskesmas Masamba. Ruang itu penuh dengan berkas dan aroma obat-obatan. Ia berharap bisa melahirkan secara normal. Namun perjuangan harus terhenti di pembukaan enam, di tengah rasa sakit yang datang tanpa jeda dan napas yang semakin tidak teratur.

Kisah ini bukan hanya tentang proses medis, tetapi tentang pengalaman eksistensial seorang perempuan dalam melahirkan kehidupan. Tentang bagaimana rasa sakit, pilihan medis, dan pandangan masyarakat bertemu dalam satu ruang bernama “melahirkan,” tutup Nur’ Ain ibu dari Sophia Sarasvati.

Di tengah mitos dan stigma yang masih hidup, cerita seperti ini menjadi pengingat: bahwa setiap cara melahirkan adalah bentuk keberanian. Bahwa menjadi ibu tidak ditentukan oleh jalan lahir, melainkan oleh cinta yang mengiringinya sejak awal kehidupan baru itu dimulai.
( Musakkir Basri )

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Baca juga :  Tarian Papua Mengagumkan, Ketua IKT Yusuf Rombe dan Diaspora Bersyukur di  IMT 110 tahun 
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!