Selain produktivitas, perluasan luas panen juga menjadi faktor penting. Ateng menyebut, luas panen padi sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 11,32 juta hektare, meningkat 12,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk awal tahun 2026, BPS juga mencatat potensi produksi yang masih menjanjikan. Pada periode Januari–Maret 2026, potensi produksi padi diperkirakan mencapai 17,65 juta ton GKG atau mengalami peningkatan 2,41 juta ton GKG (naik 15,80 persen) jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, potensi produksi beras pada Januari-Maret 2026 diperkirakan sebesar 10,16 juta ton atau mengalami peningkatan sebeasr 1,39 juta tona tau 15,79 persen jika dibandingkan Januari-Maret 2025.
“Angka Januari–Maret 2026 ini masih merupakan angka potensi dan dapat berubah, tergantung kondisi pertanaman di lapangan seperti serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pergeseran waktu panen oleh petani,” terang Ateng.
Ia menambahkan, secara spasial, potensi panen padi pada Januari–Maret 2026 terkonsentrasi di sejumlah wilayah sentra produksi, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, serta beberapa provinsi di Sumatra, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat.
Secara keseluruhan, Kementerian Pertanian melihat capaian produksi beras tahun 2025 menjadi indikator kuat membaiknya kinerja sektor pertanian nasional. Peningkatan produksi yang ditopang oleh produktivitas dan luas panen tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional serta menjaga stabilitas pasokan beras di tengah dinamika iklim dan tantangan produksi ke depan. Pemerintah terus mendorong penguatan hulu hingga hilir pertanian agar tren positif ini dapat berlanjut secara berkelanjutan pada tahun 2026. (*)

