Sementara itu, Peng Suyoto menilai keterlibatan PSMTI dalam program ini sebagai sebuah kesempatan berharga yang belum tentu datang dua kali.
“Kesempatan seperti ini belum tentu terulang. Karena itu kami merasa penting untuk ikut ambil bagian,” ujarnya.
Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa Tionghoa dan Islam bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Ia mengingatkan bagaimana sosok Laksamana Cheng Ho pada masanya pernah memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.
“Tionghoa dan Islam bukanlah sesuatu yang untuk dipertentangkan. Mari kita bergandengan tangan menyebarkan kebaikan bagi sesama, tanpa memandang suku, ras maupun agama,” kata Peng Suyoto.
Dalam sambutannya, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa peluncuran program wakaf 100.000 Alqur’an beriluminasi Tionghoa dalam peringatan Nuzulul Qur’an bertema “Jembatan Harmoni Peradaban” merupakan simbol nyata keberagaman dan keindahan peradaban Islam di Nusantara.
Menurutnya, Islam di Indonesia sejak dahulu tumbuh dengan wajah yang ramah, terbuka, dan mampu berdialog dengan berbagai budaya.
Acara malam itu semakin semarak dengan pembacaan ayat suci Alqur’an oleh qori internasional yang melantunkan ayat-ayat dengan penuh penghayatan. Tak hanya itu, penampilan seniman lukisan pasir turut memukau para hadirin. Lewat butiran pasir yang digerakkan dengan cekatan, sang seniman menghadirkan visual perjalanan sejarah Islam: mulai dari turunnya wahyu pada malam Nuzulul Qur’an, perkembangan Islam di Nusantara, hingga kisah berdirinya Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.
Di bawah kubah megah Masjid Istiqlal, malam itu Alqur’an bukan hanya dibaca, tetapi juga dirayakan sebagai cahaya yang mempersatukan peradaban. Sebuah pesan sederhana namun dalam: bahwa keberagaman bukanlah jarak, melainkan jembatan menuju harmoni. ( Ardhy M Basir )

