Catatan M. Dahlan Abubakar
Pengantar:
Ratusan alumnus IAIN (UIN) Alauddin Makassar yang berasal dari Bima dan Dompu, 22 Maret 2026 menggelar Reuni Alumni Lintas Generasi di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bima. Kisah beberapa alumnus yang kebetulan menjabat Guru Besar dan Hakim Tinggi ternyata menguak kisah suka, duka, dan juga masalah cinta mengiringi perjuangan mencari ilmu mereka. Wartawan media ini yang hadir pada reuni itu mulai menurunkan beberapa seri catatan tercecer tentang acara tersebut, (Redaksi).
Alumni IAIN Alauddin Ujungpandang yang satu ini benar-benar merengkuh cita-citanya meraih sarjana penuh onak dan duri. Dari Bima, dia hanya bermodalkan semangat. Soal biaya, dia masuk kategori tidak mampu. Beruntung dia bersahabat dengan Abd. Rahim, (alm), putra TGKH Muhammad Hasan, B.A.
Saat ke kediaman TGKH Muhammad Hasan, B.A., di Salama Kota Bima, Syarifuddin yang sangat ingin bersama Abd. Rahim menyeberang lautan mencari ilmu, dibesarkan hatinya oleh Ibunda Hj Zaenab (almarhumah) agar ikut saja ke Ujungpandang. Nanti urusan tempat tinggal dan sebagainya bergabung saja dengan Ahmad Thib Raya dan saudara-saudaranya yang sudah lebih dulu berada di sana. Bahkan, Ibunda Zaenab menjanjikan akan bersurat kepada anak-anaknya perihal Syarifuddin yang akan bergabung dengan mereka.
“Saya sampai di sana, ke orang tua. Kemudian orang tua berkata,” Kok kamu bermimpi sekali untuk berkuliah. Kemampuan tidak ada. Makan saja tidak ada,” Syarifuddin mengenang pengalamannya.
Mendengar kalimat ayahnya, Syarifuddin bagaikan “memberontak”. Akhirnya seluruh keluarga dikumpulkan. Mereka menyarankan.
“Tidak usah kuliah. Biaya kuliah dari mana kita,” kata mereka.
Namun di antara suara-suara yang tidak mendukung Syarifuddin itu, ada salah satu dari keluarga yang bersuara lain. Menyanggupi keberangkatan Syarifuddin untuk melanjutkan pendidikan ke Ujungpandang. Namun hanya sekadar untuk ongkos sewa kapal saja.
Setiba di Ujungpandang, Fudin, begitu Ahmad Thib Raya memanggilnya, bersama Abd. Rahim mendaftar ke Fakultas Syariah karena fakultas ini memiliki masa depan yang bagus.
“Kami tidak tahu, didiskusilah apa yang disampaikan Prof. Ahmad Thib Raya. Fudin tinggal saja bersama Prof. Ahmad Thib Raya, Fauzi, Syukri, Hamdan, Abd, Rahman, Ini ada Hamidatul Alifah (Ifa) ke sana, Fudin tinggal bersama kakak-adik bersaudara ini. Ada Kak Mansyur, ada Kak Anas,” kenang Fudin.
Di situlah baru Fudin merasakan bahwa hidup untuk berkuliah itu tidak mudah. Tidak seperti yang dibayangkan. Tetapi dengan izin Allah, Fudin merasakan, ada keterlibatan mukjizat Alquran. Berkah Alquran itu sampai kepada Fudin. Dengan modal sedikit kemampuan membaca Alquran, bisa melantunkan ayat sedikit, ya tidak seperti Qari tadi dan hafiz, Fudin hanya terbatas.
Bermodalkan Alquran itu, Fudin dipanggil untuk mengajar di beberapa rumah. Ada lima rumah tempat dia mengajar mengaji. Mengajar privat. Kemudian, dipanggil tinggal di masjid. Sampai dengan selesai kuliah mengajar di sekolah dan ini bukan untuk main-main.
“Yang saya hindari selama saya kuliah adalah pacaran. Pacaran saya hindari karena harus menyiapkan waktu khusus yang modalnya besar kalau kita pacaran. Oleh karena itu pada saat itu saya berprinsip tidak boleh pacaran. Kemudian tidak boleh begadang, seperti main kartu, main catur, karena kita harus mengejar waktu,” bebernya lagi.
Setelah itu Fudin punya modal, bahkan memiliki sedikit simpanan untuk dikirim ke adik-adik di kampung yang masih bersekolah di SMP dan SMA. Kemudian ada yang melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah. Waktu itu, uang kuliah Rp 33.000 saja satu semester. Fudin dapat gaji mengajar mengaji satu rumah Rp 35 ribu per bulan dikali empat tumah. Yang sisanya bisa disisipkan untuk adik-adik. Itulah yang dia manfaatkan dengan adanya masjid. Setiap Fudin ke rumah tempat mengajar mengaji, sudah disiapkan pertama, makanan. Nanti pulang disiapkan lagi ‘snack’. Saat pulang sudah kenyang.
[caption id="attachment_95151" align="alignnone" width="300"]
Saat Fudin menyelesaikan pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Alauddin tahun 1991, tiba-tiba diajak oleh teman-teman di sekitar tempat kos di masjid mengikuti tes calon hakim.
“Masa kita ini bisa jadi hakim,” Fudin membatin. Dia tidak percaya diri awalnya. Tetapi temannya mengatakan, ikut dan coba saja. Prosesnya, belajar, belajar, belajar, ternyata bisa. Dari beberapa orang Bima yang belajar, Fudin sendiri yang lulus. Alhamdulillah pada tahun 1992 dia mengikuti pendidikan hingga pada tahun 1993.
Begitulah Fudin merasakan “mukjizat” Alquran itu masuk dalam kehidupannya di dalam hidupnya. Setelah menjadi hakim Agama Bima, tugas Fudin berputar, ke NTT, Kalimantan, dan kini (2026) di NTB, setelah menjadi Ketua Pengadilan Agama beberapa kali. Sekarang menjadi Hakim Tinggi. Kemarin, di Samarinda (Kaltim), Hakim Tinggi di PTA Mataram, dan tidak lama lagi, dalam waktu tiga tahun harus pindah. Mungkin akan masuk Jawa setelah ini.
Intinya, tidak ada yang mustahil. Seperti dikatakan oleh Prof. Thib, mari kita bercita-cita setinggi-tingginya. Kemudian kebaikan-kebaikan itu harus ditampakkan. Bagaimana kita membagi.
“Gaji hakim sekarang luar biasa. Gaji sudah lebih dari cukup untuk bisa hidup. Dan itu kita bagi. Sudah dapat Rp 50 ribu. Yang belum dapat bisa kirim kabar,” kata Syarifuddin yang pada awal acara sempat menyawer alumni yang hadir selembaran uang warna biru. (Bersambung).

