Dari Warkop ke Ruang Kelas: Adil Akbar Menyemai Sejarah Lewat Cerpen

Ramzy
Ramzy 250 Pembaca
4 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Seorang guru sejatinya bukan sekadar penyampai materi dan penuntasan buku paket. Ia dituntut menghadirkan cara belajar yang hidup, membumi, dan mudah dipahami. Di situlah kreativitas menjadi nadi pembelajaran.

Bagi Adil Akbar, guru SMK Negeri 10 Makassar, sastra—khususnya cerpen—menjadi jembatan untuk mengajarkan sejarah. Di tangan guru kelahiran Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 6 April 1993 ini, peristiwa masa lalu tidak hadir sebagai angka tahun yang kaku, melainkan sebagai kisah manusia dengan segala denyut emosinya.

Adil memang memiliki kedekatan personal dengan dunia tulis-menulis. Sejak 2016–2017, ia mulai menekuni cerpen secara serius. Cerpen pertamanya berjudul Mengaku Raja dimuat di harian Fajar.

“Dimuat di rubrik Budaya itu punya prestise tersendiri,” katanya, sambil tersenyum di balik kacamata dan topi yang hampir selalu setia menempel di kepalanya. “Artinya tulisan kita sudah melewati proses seleksi dan kurasi. Rasanya seperti memenangkan sebuah kompetisi.”

Ia mengaku banyak belajar dari Sulhan Yusuf, pendiri Paradigma Institut yang juga dikenal sebagai pengelola toko buku. Dari sana, Adil tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar disiplin membaca—sebuah kebiasaan yang kemudian membentuk proses kreatifnya.

Kecintaan pada sejarah tidak pernah lepas dari latar belakang pendidikannya sebagai alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Makassar (UNM). Data dan fakta sejarah menjadi bahan baku cerpen-cerpennya. Tokoh dan tempat memang disamarkan, namun ruh peristiwanya tetap berpijak pada kenyataan.

Proses kreatif itulah yang dibagikan Adil dalam Diskusi Buku “Hikayat dalam Secangkir Kopi” di Kudeta Coffee, Jalan Mappala Raya, Minggu, 18 Januari 2026.
Diskusi yang digagas Komunitas Jalan Bareng ini menghadirkan Rusdin Tompo, Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, sebagai pembahas, dengan Muhammad Alif Hasyudi sebagai moderator.

Baca juga :  Pelayanan Prima, Polsek Paotere Lakukan Binluh dan Bantu Penumpang Turun dari Kapal

Sejumlah pegiat literasi dan seni turut hadir, di antaranya Ketua Komunitas Jalan Bareng Makassar Payyad, akademisi Dr Fadli Andi Natsif, sastrawan M Amir Jaya, serta penyair Syahril Rani Patakaki.
Suasana diskusi terasa cair—seperti secangkir kopi yang menemani obrolan panjang tentang sastra dan sejarah.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!