PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Seorang guru sejatinya bukan sekadar penyampai materi dan penuntasan buku paket. Ia dituntut menghadirkan cara belajar yang hidup, membumi, dan mudah dipahami. Di situlah kreativitas menjadi nadi pembelajaran.
Bagi Adil Akbar, guru SMK Negeri 10 Makassar, sastra—khususnya cerpen—menjadi jembatan untuk mengajarkan sejarah. Di tangan guru kelahiran Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 6 April 1993 ini, peristiwa masa lalu tidak hadir sebagai angka tahun yang kaku, melainkan sebagai kisah manusia dengan segala denyut emosinya.
Adil memang memiliki kedekatan personal dengan dunia tulis-menulis. Sejak 2016–2017, ia mulai menekuni cerpen secara serius. Cerpen pertamanya berjudul Mengaku Raja dimuat di harian Fajar.
“Dimuat di rubrik Budaya itu punya prestise tersendiri,” katanya, sambil tersenyum di balik kacamata dan topi yang hampir selalu setia menempel di kepalanya. “Artinya tulisan kita sudah melewati proses seleksi dan kurasi. Rasanya seperti memenangkan sebuah kompetisi.”
Ia mengaku banyak belajar dari Sulhan Yusuf, pendiri Paradigma Institut yang juga dikenal sebagai pengelola toko buku. Dari sana, Adil tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar disiplin membaca—sebuah kebiasaan yang kemudian membentuk proses kreatifnya.
Kecintaan pada sejarah tidak pernah lepas dari latar belakang pendidikannya sebagai alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Makassar (UNM). Data dan fakta sejarah menjadi bahan baku cerpen-cerpennya. Tokoh dan tempat memang disamarkan, namun ruh peristiwanya tetap berpijak pada kenyataan.
Proses kreatif itulah yang dibagikan Adil dalam Diskusi Buku “Hikayat dalam Secangkir Kopi” di Kudeta Coffee, Jalan Mappala Raya, Minggu, 18 Januari 2026.
Diskusi yang digagas Komunitas Jalan Bareng ini menghadirkan Rusdin Tompo, Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, sebagai pembahas, dengan Muhammad Alif Hasyudi sebagai moderator.
Sejumlah pegiat literasi dan seni turut hadir, di antaranya Ketua Komunitas Jalan Bareng Makassar Payyad, akademisi Dr Fadli Andi Natsif, sastrawan M Amir Jaya, serta penyair Syahril Rani Patakaki.
Suasana diskusi terasa cair—seperti secangkir kopi yang menemani obrolan panjang tentang sastra dan sejarah.
Adil bercerita, sebelum bukunya terbit, tulisan-tulisannya hanya ia kliping sebagai arsip pribadi.
Mengumpulkan cerpen menjadi buku justru menjadi cara untuk menyalakan kembali semangat menulisnya yang sempat redup. Ada masa ia sangat produktif, ada pula fase jeda yang membuatnya harus mencari ulang ritme.
Buku Hikayat dalam Secangkir Kopi memuat 18 cerpen, seluruhnya pernah dimuat di media massa. Buku ini diperlengkapi prolog oleh Muhammad Arif Sikki, Ketua AGUPENA Sulawesi Selatan, dan epilog oleh Rusdin Tompo.
Menariknya, Adil mengaku lebih nyaman menulis di warkop atau kafe. Hiruk-pikuk pengunjung tak mengganggunya. Justru di ruang-ruang itulah imajinasinya bekerja.
“Saya bisa menulis di tempat ramai. Tidak masalah warkopnya penuh,” ujarnya santai.
Selain sejarah dan budaya, pengalaman pribadinya sebagai mahasiswa dan guru juga menjadi sumber cerita. Dunia urban dengan kafe dan warkop sebagai ruang kerja pun kerap hadir dalam cerpennya.
Rusdin Tompo menilai, Adil Akbar Ilyas Ibrahim menunjukkan keseriusan dalam proses kreatif. Untuk menulis satu cerpen, tak jarang ia membaca hingga enam buku.
“Membaca dan menulis bagi Adil seperti dua sisi mata uang,” ujar Rusdin. “Cerpen-cerpennya kuat pada tema lokal, menggambarkan kehidupan urban, sekaligus memuat nilai sejarah dan multikultural dengan pendekatan yang humanis.”
Lewat cerpen, Adil Akbar tidak hanya merawat tradisi literasi, tetapi juga menemukan cara lain menghidupkan sejarah—bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai kisah yang dekat dengan kehidupan. Secangkir kopi, selembar cerpen, dan pelajaran sejarah pun menemukan napas barunya. ( ab )

