Dr. Zulkarnain Hamson, S.Sos., M.Si.
Peneliti Etik Digital di Makassar
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT), rute Yogyakarta–Makassar, di kawasan Gunung Bulusaraung, Taman Nasional Bantimurung, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, memunculkan berbagai gambar rekayasa Artificial Intelligence (AI).
Bahkan netizen yang diketahui sebagai Guru Besar (GB-profesor) universitas ternama di Makassar, sampai menuliskan status di Facebook, agar kreator konten berhenti menyebarluaskan gambar pesawat terbakar.
Pelanggaran etik digital dalam rekayasa kecelakaan pesawat ATR di Gunung Bulusaraung mencerminkan Degradasi moral di ruang siber demi konten semata. Pembuatan informasi palsu atau hoaks ini melanggar prinsip kejujuran yang seharusnya dijunjung tinggi dalam ekosistem digital.
Tindakan ini bukan sekadar kekhilafan, melainkan manipulasi sadar yang mengeksploitasi fitur teknologi untuk menciptakan realitas palsu yang menyesatkan publik.
Secara kemanusiaan, rekayasa ini merupakan bentuk pelanggaran berat karena menimbulkan kepanikan massal dan trauma psikologis. Gunung Bulusaraung adalah lokasi nyata, dan mengaitkannya dengan tragedi fiktif sangat menyakiti perasaan keluarga yang mungkin memiliki kerabat yang sedang melakukan penerbangan.
Penyebar konten hanya dengan motif menarik keuntungan, telah gagal menerapkan empati digital, di mana mereka lebih mementingkan jumlah pengikut atau keterlibatan (engagement) daripada dampak emosional yang ditimbulkan bagi masyarakat luas.

