Oleh : Ardhy M Basir
Di sebuah ruang kelas di daratan China, suasana tiba-tiba berubah sunyi selepas makan siang. Buku-buku ditutup, lampu diredupkan, dan satu per satu siswa merebahkan kepala di atas meja. Bukan karena kelelahan semata, melainkan karena ada satu kegiatan yang memang dijadwalkan: tidur siang.
Pemandangan ini mungkin terasa asing bagi banyak sekolah di Indonesia, di mana tidur di kelas kerap dianggap pelanggaran disiplin. Namun di Tiongkok, khususnya di jenjang sekolah dasar, tidur siang justru menjadi bagian dari rutinitas pendidikan.
Tradisi ini dikenal sebagai wu jiao (午觉), yang secara harfiah berarti “tidur siang”. Kegiatan ini umumnya berlangsung sekitar 30 hingga 60 menit setelah makan siang. Di sejumlah sekolah dasar—termasuk beberapa yang pernah disorot media lokal seperti Sekolah Dasar Gaoxin (sering disebut dalam laporan sebagai bagian dari kawasan pendidikan di kota-kota besar seperti Shenzhen atau Xi’an)—para siswa diwajibkan mengikuti waktu istirahat ini.
Di dalam kelas, meja belajar berubah fungsi menjadi tempat beristirahat. Dengan bantal kecil atau sekadar lengan sebagai alas, siswa menundukkan kepala dan terlelap dalam suasana yang telah diatur rapi oleh guru. Posisi duduk hingga arah kepala pun sering diatur agar ruangan tetap tertib.
