Dalam penjelasannya, Nabi Ibrahim menjadi teladan utama dalam hal keikhlasan, termasuk ketika diperintahkan meninggalkan keluarganya di lembah tandus dan saat menerima ujian penyembelihan putranya, Nabi Ismail. Semua itu dijalani dengan penuh ketaatan kepada Allah SwT.
“Keikhlasan berarti memurnikan niat hanya untuk Allah. Dalam kehidupan sekarang, hal ini bisa diwujudkan melalui ibadah yang istiqamah, bekerja dengan jujur, serta berbuat baik tanpa mengharap pujian atau pengakuan,” ujar dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar ini.
Selain keikhlasan, khatib juga menyoroti pentingnya keberanian menghadapi tantangan. Nabi Ibrahim disebut sebagai sosok yang berani menegakkan tauhid di tengah penolakan masyarakat dan ancaman Raja Namrud. “Keberanian dalam Islam tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga keberanian moral untuk mempertahankan kebenaran, kejujuran, dan ketakwaan di tengah berbagai tekanan kehidupan modern” ujar anggota penasihat ISKI Sulawesi Selatan ini.
Pada bagian akhir khutbah, Ketua Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah NSW Australia periode 2021/2022 ini, juga menekankan pentingnya semangat tajdid atau pembaruan dalam Islam. Umat Islam didorong untuk terus berpikir kritis, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta memanfaatkan teknologi demi kemaslahatan umat.
Dengan pesan tersebut, khutbah Iduladha di Masjid Mujahidin Muhammadiyah Kappang menegaskan bahwa Islam adalah agama yang dinamis, progresif, dan membawa rahmat bagi seluruh alam. (*)

