Oleh: Prof. Hasil Sembiring
Pernyataan Feri Amsari yang menyebut swasembada pangan sebagai “kebohongan” Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar keliru, melainkan tudingan yang menyakiti 115 juta petani Indonesia yang setiap hari bekerja memastikan negeri ini tidak kekurangan pangan.
Pernyataan tersebut terasa lebih sebagai opini sesat daripada hasil riset. Ibarat seseorang yang baru keluar dari goa, melihat secuil kenyataan masa lalu, dan merasa paling memahami kondisi bangsa. Bahkan terasa ironis ketika keinginan untuk dikenal justru ditempuh dengan cara merendahkan kerja keras orang lain. Kasihan, jika ingin terkenal harus memanfaatkan tudingan yang berpotensi menjadi fitnah keji terhadap hasil kerja petani bangsa sendiri.
Teringat dulu dalam ceramahnya, Zainuddin MZ pernah mengingatkan agar tidak mencari ketenaran dengan cara yang tidak baik, bahkan dengan analogi ekstrem “kalau ingin terkenal, jangan dengan cara konyol seperti kencing dari atas Monas”. Pesannya jelas, popularitas yang dibangun dari sensasi murahan bukanlah kehormatan.
Dalam falsafah Minangkabau dikenal ungkapan “mancari namo di ateh malu urang”, yaitu mencari nama dengan mempermalukan orang lain. Apa yang terjadi hari ini terasa persis seperti itu.
Padahal fakta sangat jelas dan tidak datang dari satu sumber saja. Data tahun 2025/2026 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya kenaikan produksi gabah 7,1 juta ton, yang setara dengan sekitar 4,1 juta ton beras, sehingga menciptakan surplus dibanding kebutuhan nasional yg hanya 30,5 juta ton. Tercatat angka tetap produksi beras nasional menurut BPS mencapai 34,69 juta ton. Ini data dengan akurasi dan validasi lapangan yang tinggi.
Hal ini sejalan dengan prediksi Food and Agriculture Organization, dan United States Department of Agriculture yg menyatakan bahwa produksi Indonesia untuk 2025 sejumlah 34,6 juta ton beras.
Menariknya, Disamping luas lahan baku sawah bertambah karena cetak sawah baru, berdampak pada satu “ilmu penting” yang tidak dikuasai Feri Amsari, yaitu Luas panen malah meningkat 1,3 juta hektar atau 12,7% dibandingkan 2024!
Perlu ditegaskan, ini bukan data Kementerian Pertanian, melainkan data independen nasional dan internasional. Presiden Prabowo melarang Kementan mengeluarkan data agar apa? Agar analisa kacau macam anda ini tidak makin bias di ruang publik.
Kenaikan ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja sistematis yang bisa dihitung secara terbuka. Hal inilah yang disebutkan sebagai peningkatan Indeks pertanaman (IP) sebagai hasil dari intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.
Bahkan jika dibedah lebih dalam, sumber kenaikan produksi tersebut sangat jelas berasal dari tiga program utama pemerintah yang dapat dihitung secara matematis dan transparan.
Program pertama adalah pompanisasi, yaitu pengelolaan air menggunakan pompa untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP). Program ini menjangkau sekitar 1,1 juta hektare lahan. Dengan asumsi tambahan satu kali tanam dan produktivitas rata-rata 5,5 ton gabah per hektare, program ini menghasilkan tambahan sekitar 6,05 juta ton gabah, atau sekitar 56,4 persen dari total peningkatan produksi. Ini menjadi kontributor terbesar karena memaksimalkan lahan eksisting yang sebelumnya hanya ditanam satu kali menjadi dua kali atau lebih.
Program kedua adalah optimalisasi lahan (Oplah) rawa, yang menghidupkan kembali sekitar 800 ribu hektare lahan rawa, tadah hujan, dan lahan marginal di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua Selatan. Melalui perbaikan tata air dan peningkatan indeks pertanaman, program ini menghasilkan tambahan sekitar 4,4 juta ton gabah, atau sekitar 41 persen kontribusi terhadap total peningkatan. Ini adalah kombinasi antara intensifikasi dan aktivasi lahan yang sebelumnya kurang produktif.
Program ketiga adalah cetak sawah baru, yaitu pembukaan lahan baru sekitar 50 ribu hektare. Dengan produktivitas rata-rata yang sama, program ini memberikan tambahan sekitar 275 ribu ton gabah, atau sekitar 2,6 persen. Meskipun kontribusinya belum signifikan, program ini penting sebagai fondasi jangka panjang dalam memperluas basis produksi nasional. Dalam jangka panjang lahan cetak sawah akan mengganti lahan-lahan pertanian yang telah dikonversi untuk kebutuhan lainnya.
Jika seluruh potensi ketiga program tersebut dihitung secara maksimal, total tambahan produksi di tahun 2025 mencapai sekitar 10,7 juta ton gabah. Namun dengan pendekatan realistis sebesar 80 persen untuk mengakomodasi faktor lapangan seperti cuaca, kesiapan petani, dan variasi produktivitas, maka realisasi tambahan produksi berada di angka sekitar 8,58 juta ton gabah, atau setara dengan sekitar 4,55 juta ton beras.

