Interaksi Budaya LAPAKKSS – Dialog Budaya dan Pertunjukan Kesenian (Bagian Keempat)

Zainal
Zainal 318 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Dialog Budaya

Laporan: Rachim Kallo

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR -- Pidato Kebudayaan di bagian kedua atau edisi ketiga dari laporan awak media, Dr. H. Ajiep Padindang, SE., MM. usai berorasi – Senator Senayan mengundang tetamu yang hadir pada kegiatan Interaksi Budaya Lembaga Pengembangan Kesenian Dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS), untuk penandatanganan di spanduk sebagai dukungan kawasan Benteng Somba Opu sebagai Pusat Kegiatan Sekolah Budaya Karaeng Pattingalloang.

Penandataganganan berlangsung beberapa menit di spanduk yang terbentang di sisi kiri baruga benteng somba opu. Setelahnya, MC – Ria A. Abubakar H menyampaikan sebelum dialog budaya dimulai sebagai pengantar kita tampilkan kesok-kesok yang dibawakan Haeruddin Ahar. Dengan iringan kesok-kesoknya bercerita (bertutur) sesuai tema kegiatan interaksi budaya. Ada penekanan sang penutur dengan satu nama Daeng Pamatte. Dialah yang dikenal penulis lontaraq pada tahun 1538. Nama yang disebutkan tadi, salah satu pemantik sempat menanggapinya. (Maaf bukan berpolemik).

Dialog budaya menghadirkan Prof. Dr. Hj. Kembong Daeng., M.Hum (Pemertahanan pemanfaatan Aksara Lontaraq sebagai alat komunikasi dalam interaksi sosial budaya), Drs. H. ANDI AHMAD SARANSI.,M.Si. (Vitalisasi Aksara Lontaraq Menjawab Tantangan Kebudayaan Di Masa Depan) dan Drs. Eddy Thamrin., MM. (Trend Budaya Digital dan Kreativitas Berkesenian memanfaatkan potensi budaya Makassar).

Awalnya, dialog budaya sesuai rundown sesi per sesi, mengingat waktu dan kondisi cuaca saat itu, maka kesepakatan tim kerja Lapakkss dan moderator Ishakim dan Dr. Asis Nojeng, M.Pd. memakai system panel.

Dengan suasana santai yang seketika hujan pun sedikit reda, Ishakim sang moderator membuka dialog budaya memperkenalkan satu persatu pemantik dan dibenarkan Bung Nojeng yang juga sebagai moderator. Sesuai judul dialog budaya, moderator pun keduanya gaya berdialog.

Baca juga :  Lima Tahun Menjaga Amanah: Inakor Gowa Siap Guncang Malino dengan Konsolidasi Pengawasan Total

Drs. H. AndiI Ahmad Saransi.,M.Si. dengan judul Vitalisasi Aksara Lontaraq Menjawab Tantangan Kebudayaan Di Masa Depan mengatakan Vitalisasi atau daya hidup, adalah kemampuan untuk hidup, tumbuh atau berkembang.

“Kemampuan untuk bertahan hidup,”ujar Andi Ahmad Saransi - PNS Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Prov. Sulsel. Seraya menambahkan lontara sebagai pustaka, dan sebagai aksara.huruf.

Lain lagi, Prof. Dr. Hj. Kembong Daeng M.Hum, judul Pemertahanan pemanfaatan Aksara Lontaraq sebagai alat komunikasi dalam interaksi sosial budaya, menyampaikan seperti tertuang dalam makalahnya, aksara lontarak salah satu kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan, namun kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang dapat berbahasa Bugis dan Makassar sekaligus dapat membaca dan menulis aksara lontarak (Daeng, 2016).

Ditinjau dari segi etimologi, sambung Dosen tetap Universitas Negeri Makassar (UNM), kata lontarak terdiri dari dua kata, yaitu: raung yang berarti ‟daun‟ dan talak yang berarti ‟lontar‟. Kata raung talak mengalami proses metatesis sehingga menjadi kata lontarak. Metatesis adalah perubahan letak huruf, bunyi, atau sukukata dalam kata, seperti perubahan letak [r] dan [l] pada kata raung talak menjadi lontarak.

Ada beberapa poin yang diharapkan Prof. Dr. Hj. Kembong Daeng M.Hum, dalam untuk implementasikan, diantaranya pemanfaatan aksara Lontarak memperkenalkan aksara lontarak sejak dini kepada anak usia dini pada PAUD dan TK, menyeimbangkan antara aksara Latin dan Lontarak pada Buku Pelajaran Bahasa Bugis dan Bahasa Makassar di SD, SMP, dan SMA.

Mantan Kepsta RRI Drs. Eddy Thamrin., MM. yang juga dikenal penulis, sutradara membawakan materinya “Trend Budaya Digital dan Kreativitas Berkesenian memanfaatkan potensi budaya Makassar”.

Kata Eddy Thamrin, digital adalah suatu bentuk modernisasi proses ataupun pembaruan dari penggunaan teknologi yang dihubungkan dengan hadirnya internet dan teknologi komputer. Proses kerjanya terselenggara dengan menggunakan peralatan canggih agar mampu mempermudah urusan manusia.

Baca juga :  Satu Dekade Perjalanan: Kongres Perdana PSI Mengukir Sejarah di Solo

“Budaya digital atau digital culture hadir melalui cara manusia berinteraksi, berperilaku, berpikir dan berkomunikasi dalam lingkungan masyarakat yang menggunakan teknologi internet,”sambung Kak Yudhi sapaan akrabnya, menambahkan jika ruangan digital, gunakan untuk kebaikan maka akan menciptakan budaya digital yang baik. Bukannya menciptakan hoaks, disinformasi dan misinformasi yang berpotensi merusak persatuan bangsa yang majemuk.

“Singkat kata bahwa dengan menyimak trend budaya digital dalam aktivitas dan kreativitas berkesenian di Makassar, maka para pegiat kesenian dan kebudayaan perlu segera beradaptasi dengan mengelola dan memanfaatkan potensi budaya Makassar dalam kancah global,”pungkas Dewan Pakar Lapakkss. (bersambung).

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!