PEDOMANRAKYAT, GOWA – Pagi di Gunung Bawakaraeng masih diselimuti kabut tipis ketika langkah-langkah itu mulai menyusuri jalur pendakian. Bukan sekadar perjalanan menaklukkan ketinggian, melainkan ikhtiar sunyi untuk memulihkan apa yang perlahan tercemar: alam yang selama ini mereka cintai.
Sabtu, 25 April, puluhan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) dari berbagai kampus di Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Pusat Koordinasi Daerah (PKD) Sulsel berkumpul dengan satu tujuan—membersihkan jejak-jejak yang tak seharusnya tertinggal.
Aksi ini lahir dari kesepakatan dalam rapat koordinasi memperingati Hari Bumi beberapa hari sebelumnya. Pilihan mereka jatuh pada Bawakaraeng, gunung yang tak hanya megah, tetapi juga menyimpan ironi di setiap jalurnya.
Di beberapa titik pendakian, alam seperti “berbicara” lewat tumpukan sampah yang tercecer—plastik, bungkus makanan, hingga sisa-sisa kegiatan manusia yang lupa pulang. Gunung yang seharusnya menjadi ruang refleksi justru menjadi saksi abai.
Dari rombongan itu, lima anggota Mapala Universitas Muslim Indonesia (UMI) memilih berangkat lebih awal. Sehari sebelum aksi, mereka telah menapaki jalur untuk berkoordinasi dengan pengelola kawasan, memastikan langkah yang diambil bukan sekadar simbolik, tetapi benar-benar berdampak.
Keesokan harinya, kerja nyata dimulai. Tangan-tangan muda itu menyusuri jalur, memungut satu per satu sampah yang terselip di antara akar dan bebatuan. Kantong demi kantong terisi, hingga terkumpul 18 karung besar—angka yang tak hanya menunjukkan hasil kerja, tetapi juga besarnya persoalan.

