Kata Sebagai Senjata, Puisi Rusdin Tompo (Bag 2): Potret Ironi Di Rumah Jabatan Wali Kota

Rusdy
Rusdy 308 Pembaca
2 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh : Mahrus Andis, kritikus sastra, tinggal di Bulukumba

Pada Bagian pertama tulisan ini, sudah dicantumkan secara utuh puisi Rusdin Tompo yang berjudul Rumah Jabatan Walikota. Puisi tersebut merupakan refleksi imaji penyair tentang pemikiran demokrasi.

Penyair ingin menampilkan secara lanskap di hadapan pembaca tentang dua sisi kehidupan yang berbeda, yaitu: pemerintah sebagai pengelola birokrasi dan rakyat sebagai pemilik demokrasi.

Dunia pemerintahan yang bergengsi, mewah dan eksklusif (idiosinkretis), terwakili oleh sebuah ruang hidup yang bernama “rumah jabatan”. Sementara kehidupan rakyat kecil yang tak berdaya disimbolkan dengan tangan-tangan  pengemis, tengadah berharap recehan:

Kontradiksi derajat kehidupan di antara keduanya (baca: pemerintah dan rakyat) dapat diketahui pada bait terakhir puisinya;

“… rumah jabatan wali kota kulihat terbuka pagar besinya/

tapi sekelilingnya penuh CCTV dan penjaga/

1
2TAMPILKAN SEMUA
Baca juga :  Audiensi Mahasiswa dan Kanwil Ditjen PAS Sulsel Bahas Peredaran Narkoba di Lapas Palopo
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!