Ketika Angin Kencang Menyapa, Pohon yang Selalu Disalahkan

Ramzy
Ramzy 270 Pembaca
2 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, JENEPONTO - Cuaca ekstrem belakangan ini tak lagi sekadar kabar prakiraan. Angin kencang, hujan deras, dan badai singkat menjadi tamu yang makin sering datang di berbagai daerah Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto. Di tengah kondisi alam yang kian tak menentu itu, satu pola respons terus berulang: pohon ditebang, kabel dibiarkan.

Di sejumlah titik di Jeneponto, warga kembali menyaksikan petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN) memangkas bahkan menebang pohon-pohon di pinggir jalan dan sekitar permukiman.

Alasannya klasik—demi menghindari gangguan jaringan listrik saat angin kencang melanda. Namun, di balik suara mesin senso dan batang pohon yang tumbang, tersisa pertanyaan yang tak pernah benar-benar dijawab: apakah akar masalahnya selalu pohon?

Bagi warga, pemandangan kabel listrik yang terjuntai rendah, kusut, dan tak terawat justru lebih mengkhawatirkan. Kabel-kabel itu bergoyang hebat saat angin kencang, bersinggungan dengan atap rumah, bahkan nyaris menyentuh tanah di beberapa lokasi. Kondisi ini tak hanya berpotensi memicu pemadaman, tapi juga membahayakan keselamatan warga.

“Kalau angin kencang, bukan cuma lampu mati, kami juga takut keluar rumah. Kabelnya turun sekali,” keluh seorang warga Jeneponto yang rumahnya berada di jalur jaringan listrik lama.
Namun keluhan semacam ini kerap tenggelam, kalah cepat dengan keputusan menebang pohon.
Padahal, pohon bukan semata ancaman. Di daerah rawan angin dan panas ekstrem, pepohonan justru berfungsi sebagai penahan angin alami, peneduh, sekaligus penjaga keseimbangan lingkungan. Menebangnya tanpa solusi jangka panjang sama saja memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

Cuaca ekstrem seharusnya menjadi alarm bagi PLN untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur kelistrikan.

Pembenahan kabel-kabel lama, penataan ulang jaringan yang semrawut, serta penguatan tiang dan isolator mestinya berjalan seiring dengan perawatan lingkungan. Bukan sebaliknya—pohon habis, kabel tetap bermasalah.

Baca juga :  Komisi II DPRD Pinrang Tinjau Langsung Aset Pemkab Pinrang Di Desa Sikkuala

Di tengah perubahan iklim yang nyata, pendekatan reaktif tak lagi cukup. Masyarakat berharap PLN hadir dengan kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan: menjaga keandalan listrik tanpa mengorbankan keselamatan dan lingkungan.

Sebab ketika badai datang, yang dibutuhkan bukan sekadar gergaji mesin, melainkan keberanian untuk membenahi akar persoalan. Pohon boleh tumbang, tapi tanggung jawab tak seharusnya ikut rebah. ( Ardhy M Basir )

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!