Ketika Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Dijadikan Janji: Antara Literasi Keuangan dan Ilusi Keuntungan

Ramzy
Ramzy 2k Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Oswar Mungkasa (Pengamat Kebijakan Publik & Perencana Ahli Utama Bappenas)

PERBINCANGAN publik belakangan ini memperlihatkan satu gejala yang menarik. Dalam diskusi yang melibatkan seorang presenter ternama dan otoritas moneter, terselip satu keyakinan yang terasa makin akrab bahwa kini orang bisa mendapatkan keuntungan dari kegiatan keuangan tanpa perlu modal besar, tanpa harus meminjam, bahkan tanpa benar-benar memahami cara kerjanya. Nama-nama platform (wadah) berbasis kecerdasan buatan, termasuk yang sempat disebut seperti Cakra Corevia, ikut beredar dalam percakapan itu.

Di permukaan, narasi ini terdengar menenangkan. Tidak ada utang, tidak ada tekanan. Cukup menyisihkan sejumlah dana, lalu sistem bekerja. Bagi banyak orang, ini seperti jawaban atas kegelisahan lama, yaitu bagaimana membuat uang tidak sekadar diam, tetapi ikut “bergerak”.

Namun mungkin justru di titik inilah kita perlu sedikit menahan diri.

Selama ini kita mengenal garis yang cukup jelas bahwa menabung untuk keamanan, investasi untuk pertumbuhan dengan risiko yang menyertainya. Tapi belakangan, garis itu mulai memudar. Investasi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang membutuhkan pengetahuan atau ketekunan, melainkan cukup dengan “mengikuti sistem”. Dalam beberapa narasi, bahkan terasa seolah-olah investasi bisa dilakukan dengan cara yang hampir serupa dengan menabung.

Perubahan ini tidak datang begitu saja, namun tumbuh bersama diperkenalkannya teknologi. Istilah seperti kecerdasan buatan, algoritma, dan analisis real-time (waktu nyata) perlahan mengambil alih peran yang dulu diisi oleh kepercayaan pada lembaga. Jika dulu orang merasa aman karena keberadaan bank atau regulator (lembaga pengawas), kini rasa percaya itu bergeser ke sesuatu yang tidak terlihat yakni sebuah sistem yang bekerja di balik layar.

Masalahnya sederhana yakni tidak semua warga paham apa yang terjadi di balik layar itu.

Baca juga :  Musker PAS82 di Malino, Azhary : Kita Selalu Dianggap Ilegal, Padahal Kita Punya Ijazah SMANSa

Wadah berbasis kecerdasan buatan biasanya menawarkan kemudahan yang sulit ditolak. Tidak perlu memahami pasar, tidak perlu membaca grafik, tidak perlu menghabiskan waktu. Sistem akan mencari peluang, mengambil keputusan, dan iming-iming menghasilkan keuntungan.

Di sinilah muncul satu ilusi yang sering luput disadari.

Dalam prinsip paling dasar, keuntungan tidak pernah berdiri sendiri, namun selalu datang bersama risiko. Ketika sebuah sistem menawarkan kemudahan sekaligus kesan stabil, pertanyaan yang jarang diajukan adalah bagaimana risikonya? Apakah benar-benar berkurang, atau sekadar tidak terlihat?

Bagi sebagian orang, pengalaman awal mungkin terasa meyakinkan. Ada angka yang bertambah, ada kesaksian yang beredar. Tapi pengalaman seperti itu tidak selalu mencerminkan keseluruhan cerita. Risiko dalam sistem semacam ini sering kali tidak hilang namun hanya dipindahkan, atau bahkan disamarkan dalam kerumitan teknologi.

Yang juga patut dicermati adalah perubahan cara pandang yang pelan-pelan terbentuk. Keuntungan keuangan mulai dibayangkan sebagai sesuatu yang bisa terjadi dengan sendirinya, tanpa keterlibatan berarti. Dalam jangka pendek, ini mungkin terasa membantu. Tapi dalam jangka panjang, terdapat risiko yang lebih halus berupa bergesernya arah dari kegiatan produktif ke kecenderungan spekulatif (peluang sesaat).

Jika ini meluas, dampaknya tidak berhenti pada perorangan tetapi dapat memengaruhi cara kita memandang ekonomi itu sendiri yang bukan lagi sebagai ruang kerja dan penciptaan nilai, tetapi sebagai arena mencari peluang cepat.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Barangkali langkah pertama bukan menolak teknologinya. Kecerdasan buatan tetap punya peluang besar. Tapi setiap janji kemudahan perlu diimbangi dengan pertanyaan yang cukup sederhana yaitu bagaimana cara kerjanya, dan siapa yang mengawasi?

Di sisi lain, literasi keuangan juga perlu dilihat ulang. Bukan hanya soal mengenali investasi bodong, tetapi juga soal memahami bahwa setiap perangkat, terutama yang tampak sederhana, tetap menyimpan risiko yang tidak selalu terlihat di awal.

Baca juga :  Tim Itjenad Lakukan Current Audit di Kodam XIV/Hsn, Irdam Pimpin Taklimat Awal Wakili Pangdam

Di sini peran negara menjadi penting. Bukan sekadar hadir ketika masalah muncul, tetapi juga memastikan tersedia pilihan yang lebih aman dan terbuka, sehingga masyarakat tidak selalu tergoda oleh narasi yang terlalu indah untuk diuji.

Pada akhirnya, gejala ini bukan soal satu wadah atau nama tertentu tetapi lebih mencerminkan cara kita, sebagai masyarakat, berhadapan dengan perubahan zaman.

Di tengah berbagai janji bahwa sistem dapat bekerja sendiri dan menghasilkan keuntungan tanpa banyak campur tangan, mungkin kita justru perlu kembali pada hal yang paling dasar yaitu memahami sebelum mempercayai.

Karena tanpa itu, yang kita lakukan bukan lagi mengelola risiko melainkan sekadar menyerahkannya pada sesuatu yang belum tentu kita pahami. (***)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!