Oleh: Yahdi Basma, SH. (Sastrawan Politik Palu)
KESUNGGUHAN pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari percepatan fisik, tetapi dari kejelasan arah transformasinya. Dalam konteks ini, kepemimpinan Hadianto Rasyid menunjukkan satu garis besar yang semakin terbaca: mendorong Palu bergerak menuju kota modern dengan fondasi smart city, berbasis tata kelola yang adaptif dan kolaboratif.
Langkah ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan kerja-kerja internal penataan kota, sekaligus diperkuat oleh upaya eksternal membangun jejaring, termasuk kunjungan silaturahim ke Yogyakarta pada 21 April 2026 yang mempertemukan Wali Kota Palu dengan Walikota Jogjakarta, Dr. dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG dan Bupati Mojokerto, Dr. H. Muh. AlBarra, Lc, MHum. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi Palu melalui pembelajaran lintas daerah.
Visi Kota Modern: Lebih dari Sekadar Infrastruktur
Konsep kota modern sering kali disalahpahami sebatas pembangunan fisik. Padahal, dalam kerangka kebijakan perkotaan, kota modern bertumpu pada tiga pilar utama: (1) Efisiensi tata kelola (governance); (2) Kualitas layanan publik; dan (3) Pemanfaatan teknologi (smart system).
Palu, dalam beberapa tahun terakhir, mulai menunjukkan arah ke sana melalui : (1) Penataan wajah kota dan ruang publik. Puluhan RTH di Palu telah tampil cantik dan utilitis. (2) Penegakan disiplin kebersihan dan ketertiban. Aspek ini perlahan namun pasti, bakal jadi kultur warga kota, dan (3) Penguatan layanan publik berbasis respons cepat. App SanguPalu, Lapor Walikota, dll.
Ini adalah fondasi awal dari apa yang dalam literatur penataan kota disebut sebagai urban transformation pathway (maksudnya, rangkaian strategi, kebijakan dan langkah-langkah terencana).
Dalam konteks inilah, harapan di depan mata agar pertemuan ini tak berhenti sebagai silaturahim belaka, tapi berkembang menjadi bentuk nyata diplomasi antar daerah (sub-national diplomacy).
Maka, Silaturahim Jogjakarta harus dibaca sebagai bagian dari strategi pembangunan yang lebih luas : menggeser Palu dari kerja lokal menuju konektivitas nasional.
Smart City Sebagai Instrumen, Bukan Tujuan
Visi smart city tidak boleh berhenti sebagai jargon. Ia harus dipahami sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
Dalam konteks Palu, pengembangan smart city berpotensi diarahkan pada:
1. Digitalisasi layanan publik (perizinan, administrasi, pengaduan).
2. Manajemen kota berbasis data (traffic, kebersihan, keamanan).
3. Integrasi sistem informasi pemerintahan.
Disinilah relevansi kunjungan Wali Kota Hadianto Rasyid ke Yogyakarta menjadi penting. Kota tersebut relatif lebih maju dalam implementasi layanan publik digital dan tata kelola berbasis teknologi. Melalui pola policy transfer, Palu dapat mengadopsi model yang sudah teruji, tanpa harus memulai dari nol.

