PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Ada kehangatan dalam suara Ketua Umum PSMTI Pusat, Wilianto Tanta, ketika berbicara tentang penetapan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin (10/11/2025). Ia tidak sekadar menyampaikan ucapan terima kasih — tetapi mengenang sosok yang telah memberi banyak arti bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia.
“Keputusan Presiden Prabowo sangat tepat. Gus Dur memperjuangkan kesetaraan dan toleransi tanpa batas. Kami di PSMTI merasa sangat berterima kasih,” katanya dengan nada penuh penghargaan.
Bagi Wilianto, penetapan ini bukan sekadar seremoni negara. Ia menyebutnya momen bersejarah, semacam pengingat bahwa kebaikan yang dikerjakan Gus Dur puluhan tahun lalu masih terus hidup dalam keseharian masyarakat.
Sosok Gus Dur memang lekat di hati banyak orang. Ia Presiden yang berani mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967, aturan yang selama puluhan tahun membatasi ruang gerak budaya dan tradisi Tionghoa.
Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur mengembalikan martabat yang sempat direnggut. Ia pula yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional — kebijakan sederhana, tetapi punya makna mendalam bagi jutaan keluarga.
“Langkah-langkah Gus Dur membuka babak baru. Semua warga negara kembali punya ruang yang sama. Pengakuan negara atas jasanya sekarang adalah bukti bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia,” ujar Wilianto.

