Konferensi Internasional Linguistik dan Budaya Digelar di Unhas

Zainal
Zainal 268 Pembaca
2 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas Prof.Dr.Akin Duli, MA, Rabu (15/11/2023) membuka Konferensi Internasional Linguistik dan Budaya (International Conference of Linguistics and Culture –ICLC) IV di Aula Prof.Dr.Mattulada Kampus Tamalanrea.

Konferensi yang berlangsung hingga 16 November 2023 itu, diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan pemateri dari beberapa negara dan dilaksanakan secara hibrid (daring dan luring).

Sejumlah pembicara internasional mengambil bagian dalam konferensi ini, yakni Qin Weifen, MA (Junan University of China), Dr.Raqib Chowdhury (Monash University Australia), Prof.Emeritus Campbell Macknight (Australian National University, ANU), dan Parceda Hajateech, Ph.D (University of Rajabatah, Thailand). Prof.Dr.Issy Yuliasri, M.Hum (Universitas Negeri Semarang) satu-satunya pemateri dalam negeri bersama dengan dari Unhas, yakni Prof.Dr.Akin Duli, MA (Dekan FIB Unhas), Prof.Dr.Fayhur Tahman, M.Hum dan Prof.Dr.Lukman, MS.
Materi sesi yang menampilkan pembicara Prof.Emeritus Campbel Macknight dari Australian National University dan Qin Weifen dari Junan University of China dipandu oleh Dr.Abbas, M.Hum.

Koferensi menurut Ketua Panitia Pelaksana Prof.Dr.Nurhayati, M.Hum mencakup tema-tema bahasa dan digital, linguistik, pariwisata, kearifan lokal, pengajaran dan media,kesusastraan dan media, sejarah dan arkeologi, agama, budaya, dan filsafat. Materi ini kata Nurhayati dipilih karena banyak perkembangan dalam fenomena kebahasaan yang muncul akibat perkembangan teknologi informasi.

“Perkembangan yang sangat signifikan adalah dampak kehadiran media sosial dalam hubungannya dengan masalah perkembangan bahasa,” ujar Prof. Nurhayati.

Qin Weifen, MA (Junan University of China), pada konferensi ini membawakan makalah berjudul “Sistem Konsonan Bahasa Melayu pada abad XVI” dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar. Dalam bahasa Melayu abad XVI juga mengenal konsonan kluster /kh/ yang juga dikenal dalam bahasa Indonesia.

Baca juga :  Pemkab Sinjai Targetkan PAD 2024 Sebesar Rp 109,09 Miliar

“Pada abad XVI belum ada konsonan ganda /sy/ yang dikenal dalam bahasa Indonesia. Misalnya dalam kata /syarat/ tidak dikenal dalam bahasa Melayu abad XVI,” ujar Qin Weifen dalam penyajian berpengantar bahasa Indonesia yang begitu fasih. (MDA)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!