Gelombang protes ini seketika mengubah peta perhatian publik di Sulawesi Selatan. Banyak pihak mulai mempertanyakan performa aparat penegak hukum, heran bagaimana bisa bisnis gelap berskala masif tersebut bisa melenggang mulus tanpa tersentuh sanksi hukum yang berarti.
Bagi GARIK, menjamurnya produk tembakau ilegal ini bukan sekadar urusan kebocoran kas negara akibat manipulasi cukai, melainkan tamparan keras bagi integritas penegakan hukum. Mereka memastikan demonstrasi akan berjalan kondusif, namun tetap membawa tekanan moral yang maha kuat agar kepolisian tidak lagi berpura-pura buta.
Gaung isu lokal ini pun sukses menembus level nasional setelah poster digital bertuliskan “Copot Kapolres Maros” viral di berbagai lini masa. Kini, bola panas ada di tangan kepolisian, di mana publik tengah menanti dengan seksama bagaimana korps bhayangkara merespons tudingan miring tersebut.
Aksi yang akan membelah fokus di dua lokasi krusial—Makassar dan Jakarta—ini diprediksi bakal menjadi salah satu gelombang demonstrasi terbesar sepanjang tahun 2026 yang khusus membongkar borok industri rokok ilegal di Sulawesi Selatan. (Bara)

