Menjaga Perut Rakyat, Merancang Republik: Membaca Kepemimpinan Andi Amran Sulaiman

Ramzy
Ramzy 745 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Nani Harlinda Nurdin
(PP IKA Unhas Periode 2022-2026)

ADA satu pola yang menarik dalam sejarah kepemimpinan bangsa ini, bahwa pemimpin besar selalu diuji dari kemampuannya menyelesaikan urusan yang paling mendasar yakni perut.

Soeharto kuat karena swasembada beras pada 1984 dan SBY kokoh karena ketahanan pangan 2004-2009.

Dan ukuran paling jujur untuk menilai seorang pemimpin adalah does it work?.

Bukan seberapa lantang pidatonya tapi seberapa tenang dapur rakyatnya, bukan seberapa sering tampil di forum-forum, tapi seberapa stabil harga di pasar.

Hari ini, di tengah ancaman krisis global kita melihat pola tersebut berulang.

Data Badan Pangan Nasional pada April 2026 menunjukkan peningkatan produksi pada 11 komoditi pangan utama, beras, jagung pakan, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai (besar/kecil), daging ayam ras , telur ayam ras, daging sapi/kerbau, gula konsumsi, dan minyak goreng telah melampaui kebutuhan nasional.

Indonesia akhirnya swasembada pangan yang ditetapkan pada Sidang Kabinet Paripurna tanggal 31 Desember 2025. Dengan ukuran ini, dua periode Andi Amran Sulaiman memimpin Kementerian Pertanian layak dibaca sebagai case study tentang leadership that delivers.

Dia adalah arsitek dibalik pencapaian tersebut.

Pencapaian tersebut baru output, dan Merilee Grindle mengingatkan ada jurang antara policy content dan policy context.

Andi Amran Sulaiman paham bahwa jurang itu bernama distribusi dan dia memenangkan pertempuran di ladang lewat mekanisasi dan penertiban pupuk. Biaya produki petani turun 30 persen karena alsintan.

Dia juga sadar, kemenangan tersebut bisa rapuh jika ongkos angkut goyah, dan penyesuaian harga BBM 18 April 2026 langsung menekan rantai pasok.

Publik mengenal Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Lapangan, jarang pidato dan lebih sering turun ke sawah.

Baca juga :  Ciptakan Terwujudnya Keamanan Kondusif, Kapolres Pimpin Apel Kasatkamling Toraja Utara 

Dia memberantas mafia pupuk bersubsidi saat yang lain berkompromi.

Dia mendigitalisasi data pertanian saat yang lain masih menggunakan cara lama.

Dia paham bahwa politik paling nyata adalah politik perut.

Pencapaian tersebut baru output, dan Merilee Grindle mengingatkan ada jurang antara policy content dan policy context.

Dia paham bahwa jurang itu bernama distribusi dan dia memenangkan pertempuran di ladang lewat mekanisasi dan penertiban pupuk.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!