PEDOMANRAKYAT, JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan penguatan dolar tidak otomatis mengancam kehidupan masyarakat desa. Menurutnya, desa memiliki daya tahan ekonomi yang kuat karena ditopang sektor riil, terutama pertanian. Di tengah ketidakpastian global, pertanian justru menjadi bantalan ekonomi nasional melalui peningkatan produksi dan lonjakan ekspor.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026), Mentan Amran menjelaskan bahwa meskipun terdapat pengaruh terhadap beberapa komoditas impor seperti kedelai dan bawang putih, namun secara keseluruhan sektor pertanian nasional berada dalam kondisi kuat karena mayoritas kebutuhan pangan dipenuhi dari produksi dalam negeri.
“Dampak ada, beli BBM, tetapi ingat BBM subsidi kan tidak naik. Pupuk turun. Itulah yang dimaksud Bapak Presiden bahwa ada dampaknya, iya, tetapi dampak positifnya khususnya di desa, dampak positifnya jauh lebih tinggi,” kata Amran.
Ia menyebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sektor pertanian Januari-Desember 2025 sebesar Rp756,59 triliun meningkat hingga Rp166 triliun, sementara impor turun sekitar Rp41 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertanian kini menjadi bantalan utama ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Ekspor kita naik Rp166 triliun, impornya turun Rp41 triliun. Ini data BPS, boleh dicek,” ujarnya.
Menurut Mentan Amran, yang paling penting adalah kebutuhan dasar masyarakat Indonesia sesungguhnya tersedia di desa. Beras berasal dari sawah petani, telur dan ayam dipasok peternakan rakyat, cabai dan bawang berasal dari kebun petani, sementara energi nasional juga ditopang sawit Indonesia.
Oleh karena itu, ketika dolar menguat, masyarakat tidak otomatis panik karena Indonesia memiliki kekuatan pangan domestik yang besar sebagai penyangga ketahanan nasional.
“Desa adalah pertanian. Dampak positifnya jauh lebih tinggi,” tegasnya.
Selain beras, Indonesia juga memiliki banyak sumber pangan alternatif sebagai substitusi komoditas impor, mulai dari singkong, sagu, jagung, sorgum, pisang, hingga berbagai umbi-umbian lokal yang selama ini menjadi kekuatan pangan nasional.
Pemerintah menilai kondisi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan krisis 1997–1998. Saat itu, stok beras pemerintah pada Februari 1998 hanya sebesar 893 ribu ton di tengah El Nino dan gagal panen. Akibatnya pemerintah mengimpor besar-besaran saat nilai tukar rupiah anjlok tajam dan inflasi meledak di atas 70 persen.

