Menyeruput Kopi di Temaram Anjungan KM Tilongkabila

Ramzy
Ramzy 472 Pembaca
8 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

“Iya, ada beberapa di antara kami itu memilih menikah dengan orang Bugis-Makassar. Habis, kalau pulang juga sudah tidak punya calon. Sudah diambil orang atau menikah lebih dulu,” ungkap saya membuat Ifonk terkekeh.

“Ya, zaman itu, kan belum ada alat komunikasi. Daripada menunggu lama-lama tidak ada kepastian, kalau ada yang lamar, orang tuanya bilang, ambil saja, ” Ifonk menimpali.

Saya juga menjelaskan pengalaman seorang teman mahasiswa adal Bima. Suatu saat dia menerima surat dari pacarnya di kampung yang mengabarkan kalau dia akan segera dilamar dan menikah. Perempuan itu pun mengirim surat ke Ujungpandang, ke teman yang waktu itu berkuliah di IAIN (UIN) Alauddin. Dia membaca surat tersebut pada Sabtu (malam) Minggu. Di dalam suratnya, tertulis bahwa pada hari yang bersamaan dengan pacarnya yang di Ujungpandang sedang membaca surat itu, rupanya di kampung, eks pacarnya sedang di pelaminan, duduk bersanding dengan pria pilihan orang tuanya.

Mendengar isi surat tersebut memicu inspirasi saya untuk membuat sebuah cerita pendek. Cerpen berjudul “Malam Minggu” dimuat di rubrik “Cerita Pendek” harian “Pedoman Rakyat” edisi 6 Maret 1976.

“Jadi sempat menulis buku awal kisahnya itu?,” tanya Ifonk.

“Iya, ada buku saya “Lorong Waktu” yang saya serahkan ke Capt.Subair, tetapi tidak mencantumkan kisah teman itu,” jawab saya.

“Zaman sekarang kan mereka tidak tahu seperti apa perjuangan orang-orang dulu mencari ilmu,” katanya lagi.

“Saya senang dengar cerita orang-orang lama, Pak Aji,” sambung Ifonk setelah mendengar pengalaman seorang teman Profesor yang ketika masih di Bima pernah menjadi kusir benhur. Saat pagi belum sempat cuci muka, seorang temannya minta diantar ke suatu tempat sekitar 3 km dari desanya. Saat pagi-pagi ketika mendekati kudanya, satu tendangan penghela benhur itu melenyapkan satu biji giginya. Bibirnya pun sobek. Lantaran Mantri Kesehatan kala itu belum profesional, jahitan pada bibirnya, menyisakan pemandangan yang berbeda dengan bentuk bibitnya yang normal.

Baca juga :  Panitia Porseni PGRI VI Sulsel Serahkan Piala ke Panitia Porseni Soppeng Untuk Diperebutkan

Ifonk juga menceritakan kakeknya yang dulu pernah naik perahu layar ke Tanjung Pinang dan Jakarta, tanpa kompas sama sekali. Orang zaman dulu memanfaatkan rasi bintang di langit sebagai petunjuk arah. Ada rasi bintang tertentu yang selalu mereka jadikan sebagai pedoman pelayaran.

Yang menarik dari bincang-bincang dengan Ifonk adalah dia pernah berkenalan dengan salah seorang gadis pelajar asal Bima yang belajar di Makassar. Dia bahkan sudah berkomunikasi dengan orang tua si perempuan tersebut dan disetujui. Namun saat diinformasikan kepada orang tuanya di Jeneponto, ternyata mengandaskan keinginan Ifonk mempersunting gadis Bima tersebut.

“Tidak usah jauh-jauh dari kampung. Di sini saja,” orang tuanya berdalih saat mendengar keinginan Ifonk.

Ternyata beberapa saat kemudian, Ifonk akhirnya duduk bersanding dengan gadis asal kampung halamannya sendiri di Kecamatan Tamalate Kabupaten Jeneponto. Kisah ini menutup sesi bincang-bincang kami sembari menunggu KM Tilongkabila merapat di Pangkalan Soekarno-Hatta Makassar pada pukul 23.00 Wita, Ahad (29/3/2026) malam.
Selamat berlayar, Daeng Ifonk. Tetap berkabar dari Anjungan KM Tilongkabila buat para (calon) penumpang setia. (*)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!