Menyeruput Kopi di Temaram Anjungan KM Tilongkabila

Ramzy
Ramzy 471 Pembaca
8 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Catatan M. Dahlan Abubakar

Ini benar-benar peristiwa yang unik dan pertama kali dalam sejarah aktivitas jurnalistik saya. Berbincang-bincang di tengah temaramnya ruang kendali utama pada sebuah kapal penumpang PT Pelni, KM Tilongkabila dalam pelayaran Bima-Labuan Baju-Makassar, 28-29 Maret 2026 dengan penumpang sekitar 1.300 penumpang. Seluruh tiket terjual habis, termasuk yang “non seat” (tidak bertempat tidur). Bahkan ada yang tidak memperoleh tiket dan harus membeli tiket di atas kapal karena urusannya sangat mendesak.

Pertemuan dan bincang-bincang di tengah remang-remang ruang kemudi KM Tilongkabila tidak saja unik, namun membuat saya sangat penasaran. Pertama, sosok lawar berbincang saja, sudah sering berkomunikasi di media sosial “Facebook”. Sosok inilah yang selalu mengabarkan posisi KM Tilongkabila, kapal PT Pelni yang melayani dan melayari 11 pelabuhan mulai dari Benoa (Bali), Lembar (Lombok), Bima (Sumbawa), Labuan Bajo (Flores), Makassar (Sulawesi Selaran), Baubau-Raha-Kendari (Sulawesi Tenggara), Luwuk (Sulawesi Tengah), Gorontalo, dan Bitung (Sulawesi Utara). Jarak tersebut ditempuh total hampir 5 hari atau bersih selama 118 jam dengan jarak tempuh 1.442,27 mil (2.307,632 km).

Kedua, saya ingin sekali bergambar bareng dengan sosok “selegram” Km Tilongkabila ini untuk kepentingan tulisan ini. Apa boleh buat, saya terpaksa mencolek foto Ifonk yang ada di akun “facebook”-nya. Tentu saja keinginan saya itu tidak terpenuh karena lampu anjungan dalam keadaan dipadamkan untuk kepentingan teknis navigasi kapal. Boleh juga jika mau ambil foto di lorong menuju anjungan, tetapi tidak begitu keren.
Ketika hendak mengambil gambar Srikandi KM Tilongkabila Nur Azizah Muhidin di anjungan, ruang kemudi kapal, seluruh lampu dalam keadaan padam. Yang tampak ‘menyala’ hanyalah perlengkapan navigasi kapal yang memancarkan tulisan dan grafik digital. Lampu memang harus dalam keadaan “off” untuk memudahkan kru kapal dapat membaca dengan jelas dan tepat indikator yang ada di perlengkapan navigasi.

Baca juga :  Menelusuri Jejak Kejayaan Gowa: Putra Mahkota dan Lembaga Pusaka Leluhur Gelar Ziarah Penuh Makna

“Nanti kita foto setelah kapal sandar, Pak Aji,” terdengar suara Nur Azizah tidak berapa lama setelah kami tiba di anjungan.
“Ok, siap. Biar saya lihat-lihat situasi dari anjungan ini dulu,” jawab saya. Azizah kemudian meninggalkan saya di anjungan bersamaan dengan ada sosok yang tiba-tiba mendekat.

“Oh..Pak Aji,” terdengar suara, yang rasanya begitu akrab di telinga saya, tetapi wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali sesuai dengan foto yang selalu muncul di media sosial “facebook”-nya.

“Mau minum kopi atau teh, Pak Aji,” pria itu yang tidak lain adalah Ifonk, panggilan akrab pria kelahiran Jeneponto ini menawarkan.
“Boleh, kopi saja,” jawab saya.

Saya sering berkomunikasi dengan dia melalui akun facebook-nya setelah melaporkan dari kiri atau kanan anjungan KM Tilongkabila saat kapal akan merapat atau meninggalkan satu pelabuhan. Informasinya sangat membantu calon penumpang karena menyebut posisi kapal dengan jumlah penumpang sekaligus informasi cuaca selama pelayaran. Makanya, saya anggap Ifonk termasuk salah seorang “selegram” KM Tilongkabila, ha..ha..

Setelah selesai menyeduhkan kopi, Ifonk mengajak saya duduk di salah satu kursi dan ada meja kecil di sebelah kiri ruang kemudi. Kami berhadapan, tentu saja tidak bisa saling mengenali wajah masing-masing. Saya mengenakan pet kerucut warna abu-abu dengan baju kemeja lengan pendek kotak-kotak abu-abu kombinasi hitam muda. Saya jelas tidak bisa melihat Ifonk memakai baju warna apa.

Di tengah temaram ruang kemudi kapal, kami berbincang-bincang banyak hal dari ujung pukul ujung. Ternyata Ifonk tidak sendiri di KM Tilongkabila. Selain dia masih ada kakak dan seorang iparnya.

“Jadi saya ini boleh dikatakan keluarga Pelni,” ucapnya dalam pelayaran yang sempat saya tengok sebelumnya berada di posisi sudah siap melintas di antara Pulau Tanekeke dengan daratan Takalar, tepat di ujung barat selatan Pulau Sulawesi.

Baca juga :  UPT SDN 8 Pinrang Gelar Penamatan dan Pentas Seni

Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Termasuk Ifonk bertanya tentang situasi pelajar mahasiswa Bima yang merupakan mayoritas penumpang KM Tilongkabila trayek Makassar-Labuan Bajo-Bima dan sebaliknya pada setiap pelayaran kapal. Termasuk juga saya kisahkan tentang awal mula berkenalan dengan istri sekarang dengan segala kisah yang menyertainya.

“Akhirnya, orang Bima dan Makassar banyak yang menikah, ya,” potong Ifonk setelah mendengar cerita saya yang menyunting perempuan Bugis Wajo.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!