Pintu yang Selalu Terbuka di Hari Raya

Ramzy 1.1k Pembaca
4 Menit baca

Di ruang tamu, kursi-kursi ditata rapat untuk menampung siapa saja yang singgah. Sementara di dapur, aktivitas tak pernah berhenti.

Hidangan seperti opor ayam, rendang, hingga aneka kue khas Lebaran tersaji, seolah menjadi bahasa universal yang menyatukan semua yang hadir.

Anak-anak berlarian di halaman, orang dewasa larut dalam percakapan. Ada yang baru bertemu setelah sekian lama, ada pula yang menjadikan momen ini sebagai rutinitas tahunan.

Keluarga besar Hj. Helmy Wahid tak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga penjaga tradisi. Setiap anggota keluarga mengambil peran—menyambut tamu, menyiapkan hidangan, hingga memastikan suasana tetap hangat dan akrab.

Di sana, open house bukan sekadar agenda, melainkan warisan nilai: tentang kebersamaan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hubungan antarmanusia.

Lebaran yang Menyatukan

Fenomena serupa juga terlihat di sejumlah rumah lainnya di Makassar . Ada keluarga yang membuka rumah sepanjang hari, ada pula yang melanjutkan hingga malam. Setiap rumah memiliki cara sendiri, namun semangatnya tetap satu: menerima dan merangkul.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan cenderung individual, open house menjadi jeda yang berarti. Ia menghadirkan kembali tradisi bertemu langsung, berbincang tanpa perantara, dan merasakan kehadiran satu sama lain secara utuh.

Lebaran pun menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjelma menjadi ruang kebersamaan yang nyata.

Pada akhirnya, open house bukan tentang seberapa besar rumah atau seberapa banyak hidangan yang disajikan. Ia tentang kesediaan membuka pintu—dan hati—untuk siapa saja.

Dan dari pintu-pintu yang terbuka itu, lahirlah kembali rasa kekeluargaan yang mungkin sempat terlupa. (Ardhy M Basir)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version